Saturday, March 13, 2010

Jenjang karir atau uang




Beberapa hari terakhir ini , aq sering mendengar pertanyaan dari teman-teman seputar keputusan dalam memilih antara jenjang karir atau uang. Suatu hari, teman seangkatan di kampus geodesi pernah bertanya kepada saya,” Den, aq minta saran kamu dong. Aq diterima di 2 perusahaan ni, nah di perusahaan A gajinya gede den ,tapi kayaknya gag ada jenjang karirnya. Sedangkan kalo di perusahaan B gajinya gag seberapa, namun ada kesempatan untuk berjenjang karir. Saran dari kamu gimana den?” Sewaktu itu, aq kasih saran untuk lebih memilih perusahaan B karena berjenjang karir sehingga bisa mengembangkan diri.

Namun setelah berbincang dengan beragam orang terutama yang termasuk lulusan terbaik dari tiap universitas,aq baru menyadari bahwa banyak orang yang lebih memilih uang daripada jenjang karir. Sebagai contoh di perusahaan multinasional minyak dan gas seperti slumberger dan exxon, di perusahaan ini gaji untuk karyawan fresh graduate bisa mencapai 30 juta rupiah tiap bulan nya, tetapi bagi karyawan disana terutama yang berasal dari Indonesia,jenjang karir bisa dipastikan tidak akan berkembang pesat, karena di setiap perusahaan asing hampir semua posisi kunci dipegang oleh orang2 bule (expatriat).

Suatu hari saya berbincang dengan teman seangkatan MT di ELnusa berusia 26 tahun yang pernah bekerja di Slumberger, dia bercerita kepada saya,” Den, dulu aq pernah menjadi engineer di Slumberger, pernah juga training sampai ke Inggris dan Amerika. Setelah selesai program training, aq kembali bekerja di balikpapan, Kalimantan Timur. Namun ternyata semua posisi kunci seperti manager proyek dan supervisi dipegang oleh orang2 bule, pekerja nya ya kami ini orang-orang Indonesia. Awalnya sih seneng karena gaji disana gede banget , sampai suatu hari ketika terjadi pengurangan karyawan. Mau tau gag siapa yang jadi korban pertama pengurangan karyawan?? Ya kami ini orang2 Indonesia yang diPHK paling pertama! Mana ada berita nya orang bule dipecat. Gag ada den. Padahal aq dah 2 tahun kerja disana, bahkan kabar pemecatan nya cuman lewat telepon saja.”

Dari cerita teman saya diatas, saya sebenarnya agak terenyuh, bahwa hampir semua lulusan terbaik di tiap universitas berlomba lomba masuk di perusahaan Asing yang bergaji besar, tetapi bekerja dibawah kekuasaan orang2 bule yang terus menerus mengeruk Sumber daya Alam negara sendiri. Memang gaji disana besar, tetapi apabila dibandingkan dengan orang2 bule tersebut. Mungkin gaji orang Indonesia gag ada apa-apanya.. Bukankah ini hampir sama dengan penjajahan.

Lagi2 hidup adalah pilihan, dan kita harus bertanya pada diri sendiri,” Sebenarnya apa sih yang dicari dalam hidup saya?” Kemudian saya teringat peryataan trainer saya di Elnusa,”Sukses dan bahagia itu berbeda, karena pengertian sukses adalah bisa mewujudkan impian menjadi kenyataan, sedangkan pengertian bahagia adalah bisa mensyukuri apa yang sudah kita terima.” Dan sudah seharusnya kita sukses dan bahagia, terutama bisa berkembang dan memajukan negara sendiri. Lalu menurut anda, manakah yang bisa membuat sukses dan bahagia dalam hidup ini?

Salam hangat
Denni Pascasakti