Wednesday, May 27, 2020

Menembus Penerbangan Domestik di Jakarta


Beberapa hari sebelum penerbangan ke Yogyakarta, sempat heboh di media massa mengenai padatnya antrian di Terminal II keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta, bahkan ada yang mengatakan pemeriksaan dokumen begitu ketat-nya sampai ada 5 checkpoint.

Melalui tulisan ini, saya ingin menceritakan pengalaman keberangkatan domestik di bandara tanggal 26 Mei lalu yang ternyata berkebalikan dengan yang ada di media massa, karena Bandara saat ini begitu sepi dan jumlah checkpoint hanya ada 3 + proses check-in serta tidak terlalu ketat pemeriksaan nya.

(****)

Saya berangkat dari Bandara International Hotel sejak 4 jam sebelum keberangkatan. Alasan saya berangkat cukup awal karena sudah was-was dengan adanya berita di media massa yang menyebutkan bahwa terminal II penuh sesak dan mengantri panjang.

Setelah shuttle bus sampai di Terminal II, saya heran karena bandara begitu sepi dan hanya terlihat dua orang saja yang mulai masuk ke dalam. Setelah saya turun dan mengambil tas, saya mulai berjalan memasuki Checkpoint I.

Checkpoint I

Di Checkpoint I, petugas melakukan pemeriksaan dokumen diantaranya
1.    Identitas Diri
2.    Surat Tugas
3.    Hasil Negatif Covid 19 (Saya menunjukan lembar Negatif PCR dari Wisma Atlet)
4.    Surat Repatriasi (karena saya mengikuti program Repatriasi)
5.    Tiket Pesawat

Jika dokumen lengkap, proses pemeriksaan cukup cepat hanya 5 menit dan dilakukan wawancara singkat dari negara mana dan akan pulang ke daerah mana.

Kemudian kita akan diserahkan beberapa lembar diantaranya :
1.    Surat pernyataan dari Maskapai
2.    Formulir Klirens Kesehatan
3.    Kartu kuning HAC

Setelah itu saya berjalan masuk ke ruangan di dalam terminal II, disana tersedia banyak tempat duduk untuk mengisi beberapa formulir yang sudah diberikan sebelum menuju ke Checkpoint II.

Monday, May 25, 2020

Menuju Karangtina di Wisma Atlet (Part II)


Pukul 17:00, bus mulai berjalan dari bandara Soekarno Hatta menuju ke Wisma Atlet Pademangan. AC menyala sepanjang perjalanan dan bus dalam kondisi bersih, hanya saja saya khawatir dan tetap memasang masker karena saya tidak pernah tahu siapa yang positif dan siapa yang negatif di dalam bus ini.

Sekitar pukul 18:00, bus mulai memasuki jalan di depan Wisma Atlet, namun  banyak bus sudah berjajar didepan bus kami, sehingga kami harus menunggu bus yang paling depan menurunkan penumpang satu per satu dan hal ini memakan waktu yang cukup lama sekitar 45 menit.

Selama menunggu, ada orangtua dari mahasiswa S1 yang khawatir anaknya lapar karena sudah jam berbuka puasa, saya melihat orangtuanya terus menelfon dengan was was sampai kemudian membawakan plastik besar berisi Nasi padang yang dibagi bagikan kepada penumpang yang sudah lapar. Ada TKW juga yang tidak bisa menahan lapar kemudian memesan batagor yang dijual di halaman Wisma Atlet.

Bus akhirnya sampai di Pintu Gerbang dan kami mulai turun dan memasuki lobby Wisma Atlet. Disana ada petugas kesehatan yang menyambut kami dan menjelaskan bahwa kami harus membentuk 3 orang supaya bisa ditentukan kamar nya, lalu dipertegas lagi bahwa jika ada 1 orang yang positif di dalam kamar, maka teman teman lainnya di kamar tersebut juga akan dibawa ke RS untuk diperiksa lebih lanjut. Saya dan dua teman lainnya langsung berdiri berdekatan supaya kami bisa satu kamar dan tidak dipisah satu dengan yang lainnya.

Kemudian petugas menanyakan siapa yang ingin menjadi coordinator dan harus membentuk  grup whatsappnya, namun karena ada beberapa ABK yang protes dan bertanya terus menerus dan hal ini menyita waktu lama, akhirnya petugas Kesehatan belum menentukan coordinator dan meminta kami untuk menuju pos berikutnya supaya kami mendapatkan nomor kamar.

Pos 1 : Penentuan Nomor kamar
Kami menyerahkan Kartu kuning HAC kepada petugas, kemudian kami dijelaskan akan menempati kamar yang ada di lantai 21. Pada malam tersebut tidak banyak orang yang berkumpul di Lobby lantai 1. Kami diberitahu petugas juga bahwa kami bisa melakukan Swab test di lantai 3 yang maksimal hanya sampai pukul 22:00, jadi petugas menyarankan untuk segera mengambil swab test disana.

Kami berdiskusi singkat dan karena banyak koper bawaan ditambah kami bertiga belum makan malam, maka kami terlebih dahulu menuju ke kamar untuk menaruh koper dan juga makan malam cepat.

Lift berada di ujung koridor lobby lantai 1 dan lift tidak berdesakan seperti yang ada di media sebelumnya. Lalu kami menuju lantai 21 dan masuk ke dalam kamar yang ada di Wisma Atlet.


Kamar kami cukup bersih untuk ukuran wisma, hanya lantainya saja yang berdebu. Kami baru menyadari bahwa ada banyak perlengkapan yang harus dibeli terutama untuk alat kebersihan dan desinfektan. Karena kami tidak tahu siapa orang sebelumnya yang tinggal di kamar ini, bisa saja pasien positif yang sebelumnya menempati kamar ini. 

Jadi kami segera memesan alat kebersihan, desinfektan, hand sanitizer, makanan ringan, dan vitamin. Kemudian kami semprot semua ruangan menggunakan desinfektan supaya bersih dari virus.

Setelah makan cepat dan mencuci muka, kami mulai berjalan cepat ke lantai 3 untuk segera melakukan Swab test. Di sana sudah banyak sekali orang yang mengantri dan sepertinya teman teman di bus tidak ada yang makan malam dan langsung menuju kesini, karena Sebagian besar dari mereka sudah berada di antrian depan. 

Menuju Karangtina di Wisma Atlet (Part I)



Waktu di jam tangan saya menunjukkan pukul 15:10 WIB, Pesawat dari Middle East hampir mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Selama 1 jam terakhir saya sibuk mencari informasi menggunakan Wi-Fi Onboard mengenai karangtina dan test Swab yang diwajibkan bagi semua WNI yang datang dari Luar negeri ke Indonesia, informasi ini pun baru saya ketahui karena 1 minggu sebelumnya di bandara hanya dilakukan Rapid test saja dan 2 minggu sebelumnya bahkan lebih ringan lagi dimana hanya dilakukan pengecekan suhu tubuh. Dari keseluruhan informasi yang saya baca, belum ada satupun cerita pengalaman mengenai test swab yang dilakukan di Wisma Atlet.

Setelah pesawat mendarat, saya melihat keluar jendela dan pesawat sedang menuju ke terminal 3 kedatangan di Soekarno Hatta, kami penumpang turun satu per satu dan berjalan di dalam corridor. Sebelum sampai di Loket imigrasi, ternyata sudah ada bangku bangku berjajar kebelakang dan kami diwajibkan untuk duduk disana. Kami harus memasuki pos demi pos sebelum bisa keluar dari bandara Soekarno Hatta.

Pos I = Pengisian Formulir



Pada pos ini, saya diberikan Kartu kuning, Pengantar Karangtina, dan Formulir pengecekan suhu tubuh serta denyut nadi yang harus diisikan. Saya mulai bingung kenapa harus ada pengantar karangtina ? apakah jika hasil rapid test saya negative, saya tetap dikirim karangtina ke Wisma Atlet?

Satu per satu penumpang diukur suhu tubuh menggunakan remote pengukur suhu, kemudian jari kami dipasang alat untuk mengukur denyut nadi. Setelah selesai, petugas mengecek formulir dan mempersilahkan kami berjalan ke pos berikutnya.

Pos II = Pengambilan darah untuk Rapid Test
Antri di Pos II ini lumayan panjang, setelah sampai di depan petugas, petugas melakukan wawancara singkat dari negara mana kita melakukan travel, berapa lama di Luar negeri, kemudian jari telunjuk dibersihkan dan petugasnya bilang, “Agak sakit sedikit ditahan ya.” Alat seperti pin jarum ditusukkan ke telunjuk dan keluar darah yang kemudian dimasukkan di alat Rapid test untuk dibaca apakah hasilnya Reaktif ataupun Non Reaktif.

Jika Non Reaktif maka tidak ada antibodi di dalam tubuh yang artinya kita tidak sedang sakit, namun jika hasilnya Reaktif maka ada antibodi yang sedang dikeluarkan di dalam tubuh yang menandakan kita sedang sakit walaupun sakit yang diderita belum tentu karena Corona.

Petugas berkata ke saya,”Hasilnya ditunggu di pos III, anda bisa berjalan lagi ke pos berikutnya dan duduk disana y pak.”

Sunday, May 24, 2020

Surat Repatriasi dari Perwakilan RI




Orang orang baik banyak yang tersebar dimana saja selama kita terus berfikir positif. Awal Mei 2020 lalu, saya masih berada di Mesir dan ingin bisa pulang ke Indonesia karena pekerjaan telah selesai. Salah satu dokumen yang diperlukan untuk tiba di Jakarta dan nantinya bisa melanjutkan perjalanan domestik ke Yogyakarta adalah Surat Repatriasi dari perwakilan RI.

Saya belum pernah mengurus surat repatriasi sebelumnya dan bahkan saya tidak tahu apa saja dokumen yang diperlukan. Oleh karena itu melalui tulisan ini saya ingin menjelaskan secara lengkap pengalaman saya ketika mengurus surat Repatriasi sampai akhirnya bisa membawa saya pulang ke Indonesia.

Awalnya saya menanyakan kolega di kantor mengenai bagaimana cara mengurus surat repatriasi ini, lalu dikirimlah salah satu contact person dari Perwakilan RI di Mesir yang bernama ibu Anikma (bukan nama yang sebenarnya). Karena ingin bisa menghemat waktu, saya mencoba menghubungi beliau , namun ternyata aplikasi Whatsapp tidak dapat digunakan di Mesir untuk Voice call, sehingga saya kirim pesan chat dari Whatsapp.

Ibu Anikma orang yang baik dan tulus. Ketika saya tanya apa saja syarat repatriasi, saya dijelaskan dengan sangat lengkap dan step by step secara detail. Padahal bisa dibayangkan ada berapa banyak orang Indonesia di Mesir yang meminta surat repatriasi ini, namun tetap saya dijelaskan dengan sangat baik.

Berikut ini syarat syarat Surat Repatriasi dari Perwakilan RI =
1.      Scan Passport seluruh halaman (hanya yang ada stempelnya)
2.      Tanggal masuk dan keluar di negara Luar Negeri
3.      Tanggal masuk di Indonesia dan nama maskapai
4.      Alamat dan Nomor yang bisa dihubungi di Indonesia
5.      Lampiran tiket dari Luar negeri ke Indonesia
6.      Nama dan Alamat kantor di Indonesia
7.      Mengisi formulir Riwayat perjalanan (diserahkan kepada petugas bandara di Indonesia)