Tuesday, February 18, 2014

Selat Hormuz dan Ketergantungan Minyak di Indonesia


Tiga minggu sudah berlalu di atas kapal berbendera Indonesia yang mengarungi samudera sampai di laut Afrika untuk eksplorasi minyak bumi. Suhu udara pada trip perjalanan kali ini pun saya rasakan sangat panas ,terbukti setelah melakukan aktifitas selama 3 jam di top deck dan terjemur langsung sinar matahari, saya menyadari bahwa kulit saya segera berubah menjadi coklat.

Tidak heran juga mengapa banyak orang Afrika yang berkulit hitam dikarenakan suasana suhu udara yang panas, matahari bersinar hampir sekitar 14 – 15 jam dalam sehari, belum lagi ditambah daratan di Afrika yang sebagian besar dipenuhi oleh gurun pasir dan tanah tandus. Saya menjadi sangat bersyukur bisa dilahirkan dan besar di tanah air Indonesia yang subur.

(****)

Perjalanan kali ini ,saya membawa dua buku yang sempat dibeli di Togamas Yogyakarta, buku yang pertama berjudul “Membangun perusahaan Energi Nasional” yang ditulis oleh Salis S.Aprilian dan menurut saya buku ini banyak menjawab banyak pertanyaan saya seputar perkembangan minyak bumi dan sejarahnya di Indonesia yang akan banyak saya bahas pada tulisan ini. Buku kedua berjudul “Good News From Indonesia” yang ditulis oleh Akhyari Hananto dan menurut saya buku ini sangat inspiratif karena banyak mengangkat berita berita positif yang terjadi di Indonesia.

Setelah membaca buku pertama, saya kembali menyadari bahwa produksi minyak Indonesia ternyata “lebih besar pasak daripada tiang” apabila dibandingkan dengan konsumsi BBM Indonesia.  Sebagai catatan saya mengambil data dari kementerian ESDM pada tahun 2011 bahwa Produksi Minyak Indonesia Sebesar 902.000 bph, Sedangkan Konsumsi Minyak Indonesia sekitar 1.312.000 bph. Berarti kalau kita hitung selisihnya, Indonesia mengalami defisit minyak sekitar 410.000 barrel.

Kemudian Juga dijelaskan bahwa Indonesia pada tahun 2011 tersebut meng-ekspor minyak mentah ke luar negeri sekitar 361.000 barrel , namun sebaliknya justru membeli minyak mentah sebesar 272.000 barrel dan membeli BBM yang sudah jadi sekitar 499.000 barrel. Saya mendengar informasi bahwa minyak mentah hasil produksi dari bumi Indonesia merupakan minyak kualitas terbaik, oleh karena itu minyak ini sebagian diekspor keluar negeri karena bernilai lebih mahal dan akan banyak pasar yang memburu minyak mentah kualitas terbaik. Saya hanya mengkalkulasi kecil kecilan bahwa apabila total Import BBM Indonesia sebesar 771.000 barrel/ hari, sedangkan harga minyak dunia rata rata sekitar 100 USD per barrel, maka setiap harinya Indonesia harus mengeluarkan uang sebesar 77.100.000 USD. Sebuah angka yang menurut saya sangat fantastis dan dapat diambil kesimpulan bahwa Negara Indonesia tidak lagi bisa disebut sebagai Negara yang kaya akan minyak, oleh karena itu sejak tahun 2008, Negara Indonesia sudah keluar dari keangotaan OPEC dan menjadi Negara pengimport minyak.

(****)