Friday, December 25, 2009

Prihatin di Malam Natal



Tepat kemarin malam, tanggal 24 Desember 2009, aq mengalami malam natal yang berbeda dari malam-malam natal sebelumnya. Kemudian timbul pertanyaan,” Apakah yang berbeda?” ,ternyata selama 4 tahun sebelumnya aq ke gereja di dalam sebuah gereja yang bagus dan terawat di daerah Yogyakarta. Namun yang terjadi sekarang, saya hanya merayakan ibadah natal di sebuah tenda yang tidak bisa disebut gereja dan bertempat di Universitas Budi Luhur Tangerang. Lokasinya sangat jauh dari rumahku, terletak di daerah yang sangat macet dan tempatnya serba seadanya dengan tenda dan altar yang memperlihatkan kurangnya dana serta tempat yang layak untuk paroki kami. Tempat inipun hanya disewakan pada saat perayaan natal dan paskah saja. Ketika aq datang setengah jam sebelumnya, sudah banyak sekali umat yang hadir dan cukup sulit menemukan kursi untuk duduk walaupun setelah menemukan tempat duduk,akhirnya kami sekeluarga duduk paling belakang.

Sebenarnya dalam hati saya bertanya,” Jika umat di wilayah kami yang kira kira berjumlah lebih dari 1.200 umat harus berkewajiban misa setiap hari minggu, lalu kemanakah kami harus pergi ke gereja?”.Ternyata banyak dari kami yang harus menempuh perjalanan panjang ke gereja dan memakan waktu kira kira lebih dari setengah jam demi pergi ke gereja, itupun kami ke gereja di wilayah umat katholik lain.

Mungkin anda bertanya, “Dimanakah Gereja umat katholik di wilayah kami?” .Semua ini terjadi kira kira sekitar 5 tahun yang lalu, ketika aq berangkat ke gereja jam 8 pagi dengan berpakaian rapi dan membawa alkitab, namun dari kejauhan saya melihat kira kira ada segerombolan orang berjumlah 1.000 yang berpakaian serba putih dan hampir keseluruhan membawa berbagai macam senjata mulai dari kayu, batu, parang, sampai bambu runcing mencegat jalan masuk kami. Mereka menghancurkan pintu masuk dan meneriakkan kata kata kasar yang salah satunya menyebut kami “Kaum tidak beragama”.Saya yang waktu itu baru duduk di kelas 2 SMA bingung ,”Kenapa saya yang beragama katholik disebut kaum tidak beragama.” Dan besoknya pintu masuk gereja kami langsung ditembok lapis 2 oleh mereka. Hati saya sedih sekali waktu itu, dan kami bertanya tanya,” Lalu kami harus beribadah kemana lagi?”

Hal itu terjadi sampai sekarang, kami tetap tidak memiliki gereja, sehingga tiap minggu kami harus “menumpang” di gereja umat katholik wilayah lain, serta kami hanya mampu menyewa tenda untuk hari-hari besar seperti paskah dan natal. Pada saat saya pergi ke gereja malam natal kemarin, hati saya sedikit dipenuhi emosi karena melihat keadaan gereja kami yang terus menerus tidak mendapat kejelasan ini dan hanya bisa ke gereja di sebuah tenda yang ala kadarnya. Namun saya tersadar ketika pastor saya berkata,”Beginilah keadaan gereja di wilayah kita yang hanya bisa merayakan natal di bawah sebuah tenda.Namun bersyukurlah !! karena tepat 2000 tahun yang lalu, Yesus tidak dilahirkan di dalam sebuah kamar yang hangat dan teduh, Tetapi Yesus dilahirkan di dalam sebuah kandang, sehingga kita bisa turut merasakan keprihatinan pada saat Yesus lahir dulu.” Setelah itupun hati saya tersadar dan saya bersyukur atas keadaan ini. Dan di akhir acara,” kami sama sama berdoa supaya bisa segera mendapatkan izin untuk mendirikan gereja bagi umat di wilayah kami, karena Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki toleransi beragama tinggi.

Akhir kata,” Saya ingin mengucapkan Selamat natal dan tahun baru, Semoga damai natal selalu menyertai kita semua.”

Ditulis oleh:
Denni Pascasakti

Wednesday, December 23, 2009

Kasih seorang ibu

1 minggu aq telah berada di Bandung, tinggal di kos teman SMA yang mau berbaik hati membagi kasurnya untuk tempatku tidur, dimana hampir tiap pagi juga aq harus berjalan kaki cukup jauh dari kos ke lokasi job fair di unpad karena harga angkot lumayan mahal.

Setelah melewati beberapa tes dari perusahaan yang sampai sekarang hasilnya masih saja belum final.Tibalah saatnya untuk pulang kembali ke Tangerang, menyambut datangnya natal bersama keluarga.

Dari Bandung ke tangerang , aq naik kereta parahyangan kelas bisnis yang gerbong gerbongnya masih terawat dengan baik dan kipas anginnyapun masih berfungsi. Aq pulang bersama teman seperjuangan di Geodesi yaitu Steffi. Selama perjalanan kami bercerita dan bertukar pikiran mulai dari cita cita di masa depan sampai kasus politik yang hangat di negara ini. Namun di tengah perjalanan kami teringat bahwa hari ini adalah hari spesial untuk seorang ibu, kemudian aq mengetikkan sebuah sms yang kata katanya sangatlah sederhana, “ ma, selamat hari ibu ya, semoga mama selalu dilimpahkan kesehatan , deni sayang sama mama.”. Yang dalam hitungan beberapa menit, handphoneku kembali berbunyi dan ibuku membalasnya ,” terima kasih ya, mama juga sayang sama deni.” Mungkin kata kata sms dari ku sangatlah sederhana,. Namun aq yakin bahwa seorang ibu sebenarnya tidak mengharapkan sesuatu apapun, karena mereka mencintai dengan tulus.

Sepanjang perjalanan di dalam kereta, aq melamun ke masa aq kecil dulu, aq teringat perjuangan ibuku sesungguhnya ketika aq SMP, aq pernah menulis surat di sekolah yang isinya menceritakan bahwa aq gak seneng kalo ibuku bekerja sehingga tidak ada yang memperhatikan aq selama di rumah sampai malam hari karena ayah juga bekerja sampai malam. Dan ketika ibuku membaca surat itu dari pihak sekolah, ibuku menangis. Keesokan harinya Ibu langsung pergi ke kantor dan menemui bos nya untuk berhenti bekerja. Ibu sudah mengorbankan pekerjaan nya demi aq. Karena itu sampai sekarang aq tidak akan pernah melupakan pengorbanan seorang ibu.

Ibu...
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku

Ibu...
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada tergantikan
jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu...
hanya doa dan syukur yang bisa kupersembahkan untukmu
karena perjuangan ibu
tiada terbalas.

Ibu…
Aq sayang sama ibu..