Saturday, February 18, 2012

Proyek Perdana Oceanic Finder di Laut Vietnam

Tiga hari sudah berlalu sejak kapal berlayar dari Singapura menuju Vietnam,.Perasaan mulai bercampur aduk antara bingung dan grogi. “Saya harus ngapain ?” .

Beberapa saat kemudian, saya menuju ruang kerja navigasi dan mengambil tempat duduk, di depan saya terpampang 18 layar monitor navigasi yang sangat asing, bahkan software navigasi yang bernama Seapronav-pun, saya belum pernah mendengar apalagi menggunakannya.

Shift leader saya datang, beliau adalah orang yang saya hormati. Kami sama sama dari Indonesia, selain itu kami juga berasal dari jurusan yang sama yaitu Teknik Geodesi. Shift leader saya bernama Pak Dahlan yang memiliki perawakan serius, berbadan tegap dan berkacamata. Kemudian datang lagi dua orang Chief navigasi. Yang pertama adalah Michelle, beliau berbadan gemuk dan besar , berumur sekitar 56 tahun, berambut putih dan berasal dari Perancis. Sedangkan yang kedua adalah Hewingson yang Tinggi besar, berumur sekitar 61 tahun . Hewingson berasal dari Australia, namun karena sudah lama tinggal di Kupang, dia sedikit-sedikit bisa berbahasa indonesia dan sering mengatakan,”Saya suka Nasi Goreng.” .

Ternyata orang orang bule itu walaupun sudah berumur 60 an Tahun, masih saja senang kerja dan sangat bersemangat.. Kita bisa membandingkannya dengan orang Indonesia yang baru berumur 50-an tahun, cukup banyak yang lebih memilih di rumah untuk beristirahat, membaca koran setiap pagi, dan bermain bersama cucu.

(***)

Telepon di sebelah saya berbunyi,”Kringggggggg.”
Jantung saya tiba tiba berdebar, kemudian saya mencoba mengankat telepon itu,
” Halo, Bridge Here,.. Could cou *Y*^*&%^%$%^, because *&&^&*%^&$*”

Saya terdiam sejenak kemudian mencoba mencerna yang dia katakan,.... Itu orang cepet banget ngomongnya. Kemudian saya menjawab,”If you don’t mind, Could you please repeat what did you say to me slowly and clearly?”

Untuk yang kedua kalinya dia kembali mengatakan hal yang sama gag jelasnya dan terlalu cepat.Karena merasa putus asa untuk mencoba mercerna apa yang dia katakan, saya segera membawa telepon itu dengan sedikit malu, dan memberikannya kepada Pak Dahlan.hehehe

Proyek pertama ini cukup membuat saya frustasi, seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa dari perusahaan kami yaitu Elnusa, hanya 3 orang Indonesia yang dikirim ke kapal ini selebihnya adalah teman teman dari CXX yang kebanyakan berasal dari Perancis, USA, Inggris. Hanya Pak Dahlan-lah satu satunya orang Indonesia dari CXX. Hal lain yang membuat frustasi,kami bertiga dari Elnusa hampir tidak paham apa apa karena semua software dan peralatan disini menggunakan terknologi paling baru serta berteknologi Tinggi.

(****)

Kapal kami memiliki tugas untuk mencari cadangan minyak di kawasan Asia Pasifik yang mencakup Australia, Malaysia, Indonesia, Brunei, Filiphina, Vietnam, India.

Proses mencari cadangan minyak di laut terlihat sederhana .Kapal Seismik memancarkan getaran dari senjata udara, getaran tersebut memantul ke dasar laut kemudian kembali ke permukaan air yang direkam oleh kabel streamer sepanjang 6 kilometer sehingga didapatkan gambaran lapisan bumi yang berpotensi mengandung minyak.

namun jangan salah,, Biaya yang dikeluarkan untuk mengerjakan proyek seismik kurang lebih sebesar 1 Milyar Rupiah per Hari-nya . Woww... Bayangkan jika ada masalah sepele di kapal hanya karena kerusakan alat selama 1 hari saja, maka perusahaan rugi bersih sebesar 1 milyar rupiah.

(****)

“Denni, kamu harus berani ketika berbicara di depan orang Asing!! Kalau kita selalu merasa rendah diri didepan orang Asing, kapan Indonesia bisa Maju dan dihargai !!
Pak Dahlan berbicara cukup keras didepan saya sekaligus menghentak dan membuka pikiran saya. Bener juga , kalau kita merasa takut berbicara didepan orang asing, yang ada justru mereka semakin meremehkan orang Indonesia yang sebenarnya memiliki kemampuan setara dengan orang Asing walaupun kami hanya memiliki keterbatasan dalam hal teknologi.

Oke, mulai sekarang, yang terpenting berani dulu ngomong. Malasah grammar belakangan, toh juga orang bule banyak yang bahasa inggrisnya belepotan .


Pembentangan Kabel Streamer


Pekerjaan pertama sebelum produksi adalah membentang kabel streamer sepanjang 6 kilometer, kabel ini bertugas merekam getaran analog menjadi digital.

Sesampainya saya di ruang pembentangan kabel yang bernama Streamer deck, ternyata disana sudah ada teman teman dari Gunners dan Observer. Kebanyakan dari mereka adalah orang Filiphina dan pada saat itu sayalah satu satunya Indonesia. Keterbatasan berbahasa inggris ditambah kurangnya pengalaman di bidang seismik laut, membuat saya cukup terlihat bodoh didepan mereka.

“Denni, please give me Side Cutter and adjustable Spanner !”.
Saya mulai menarik nafas perlahan dan berfikir ,”Nama apa tuh Side Cutter? Adjustable Spanner?”

Karena saya ingin terlihat bisa, saya malah mengambil Kunci L dan Tank.
Kemudian untuk yang kesekian kalinya, saya ditertawakan..

Namun hal positif orang Filiphina, mereka cukup ramah dan Bahasa Inggris mereka cukup jelas, sehingga kesempatan tersebut selalu saya manfaatkan dengan bertanya banyak hal mengenai apa arti dari TAPU, HAPU, BIRD,serta kosakata dari bahasa planet lainnya. :p

3 jam sudah berlalu, matahari mulai menampakkan sinarnya, baru kali ini saya melihat matahari terbit diantara birunya laut dan sekumpulan awan. Keringat mulai menetes , kaki saya sedikit terasa pegal dan badan saya sedikit terguncang kekiri dan kekanan karena dentuman ombak dari sisi kapal. Di umur saya yang saat itu baru 23 tahun, saya sudah harus bekerja ditengah laut dan beradaptasi diantara orang orang asing yang memiliki budaya sangat berbeda dengan budaya Indonesia.

Terkadang saya bertanya dalam hati,”Kenapa saya harus bekerja dibawah tekanan dan tantangan seperti ini?!!” Namun lama kelamaan saya menyadari bahwa Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih besar dibalik ini semua, Ya, saya percaya bahwa akan ada waktunya dimana kami orang-orang Indonesia yang akan memegang kapal ini di suatu hari nanti.

Makanan di kapal

Waktu sarapan sudah datang, saya mengajak teman dari Filiphina yaitu Jun dan Red untuk menuju ruang makan. Ketika membuka pintu , di meja makan berjejer Daging ayam, sosis, Daging Sapi, Burger. Diujung sebelah kiri dapur diletakkan berbagai macam sayuran, buah buahan dan berbagai macam minuman Juice buah,Susu, Yoghurt, Sirup, Anggur, sampai Air putih.. asikk, 4 sehat 5 sempurna selama di kapal.hehehe.Perbaikan gizi,.:)

Namun makan daging dagingan itu ternyata hanya enak di 2 minggu pertama saja, bayangkan setiap hari yang kami makan selalu daging, kalau gag daging sapi, ayam, dan ikan. Lama kelamaan malah enek.

Setelah Memasuki minggu keempat, kulkas raksaksa untuk tempat penyimpanan makanan rusak, berpuluh puluh kilogram makanan yang ada didalamnya suhunya mulai meningkat. Sudah tiga hari kulkas tersebut berusaha diperbaiki namun tetap gagal, Es-Es yang ada pada Ikan, Ayam, daging mulai mencair. Pada akhirnya kapten datang dan memerintahkan kepada kepala koki untuk membuang semua daging yang ada di kapal ke dasar laut. “Haaaaahhhh.”

Saya melihat koki dan beberapa asisten koki mulai memasukkan sosis, daging burger, bakso, ayam, ikan, dan semua makanan yang sudah mulai berbau ke dalam plastik .Setelah dikumpulkan, totalnya berjumlah 300 kg. Kemudian daging tersebut dibawa keluar kapal, dan pada akhirnya makanan makanan tersebut dibuang ke dasar laut...

Bayangkan, 300kg daging dibuang Cuma-Cuma.. sayang banget ya.. Tapi mau bagaimana lagi.. Karena kejadian itu, selama beberapa hari berikutnya, makanan justru didominasi sayur sayuran,sampai pada akhirnya kru maritim berhasil memperbaiki kulkas kembali normal.

Thunderstorm is Coming


Pak dahlan duduk di depan komputer prosesing navigasi, sedangkan saya duduk di depan monitor navigasi Real Time. Setiap 8 detik kami mendengar suara “Dunggg..dungggg.” yang menandakan air gun sedang mengeluarkan getaran udara ke dasar laut.

Di layar Navigasi seperti DGPS, RGPS, Akustik, Pinger dalam keadaan normal., Warna hijau menandakan bahwa alat dalam keadaan bagus, sedangkan warna merah menandakan alat sedang dalam keadaan rusak atau error.

Di layar Radar,Saya melihat kapal kami sedang bergerak ke arah timur, diantara kami terdapat 4 kapal Vietnam yang bertugas mengawal kapal kami selama melakukan survei pencarian Minyak, tidak jauh dari kami ada 2 kapal nelayan yang bergerak menjauh cukup pelan.

Segalanya berjalan cukup normal sampai di layar radar terdapat sesuatu yang bergerak mendekati kapal kami, Ya.. Gumpalan awan hitam besar bergerak cepat ,, hujan deras tiba tiba datang mengguyur.

Selang beberapa detik, terdengar suara halilintar yang sangat keras.

“Jlederrrrrrrrr,..!!!!!!”

saya melihat kilatan cahaya yang terang ditengah gelapnya malam.,,

Tidak lama berselang, terdengar dentuman halilintar kedua...

dan,,, ya.. semua layar navigasi berubah menjadi berwarna merah...,beberapa display monitor di departemen Observer dan Prosesing mati , setelah komputer menyala, warna yang ditampilkan selalu sama ... Merah ...

Hampir semua orang pada saat itu berdiri, memegang kepala dengan kedua tangannya dan saya mendengar banyak orang bule yang berteriak,”F**K!!!”..

Kami kehilangan posisi koordinat DGPS dan RGPS, pak Dahlan berlari ke kamar chief navigasi untuk membangunkan beliau.Semua orang panik, Kami telah mencoba beberapa trouble shooting dengan mematikan komputer dan mesin GPS, kemudian menyalakan kembali , namun tetap sama, semuanya masih error.. Oh my God.

Party Chief, Klient, semua sudah berkumpul di ruangan kami.

Akhirnya keputusan diambil,,Ya..Kami Mendatangkan teknisi DGPS dan RGPS langsung dari Singapura menuju Vietnam , lalu dengan helikopter langsung dibawa menuju ke ke kapal kami...

Kenapa sampai didatangkan teknisi langsung dari Singapura? Jawabannya, karena kalau kapal ini tidak produksi selama sehari, maka kapal mengalami kerugian sebesar 1 milyar rupiah.. Karena itu, memanggil teknisi adalah jawaban yang terbaik ketimbang mencoba coba trouble shooting dengan metode Try and Error yang akan memakan waktu lama.

Teknisi DGPS yang saya ingat bernama MR. Wong, dengan sigap mengganti beberapa sparepart yang rusak, mengetest GPS, dan merestart sistemnya,, setelah berjuang keras, akhirnya Mr. Wong berhasil memperbaiki Sistem GPS ke kondisi Normal...

Kami juga menemukan 3 buah alat akustik Pinger yang rusak dengan kondisi board didalamnya terbakar, padahal harga satu pinger saja sebesar 7000 USD. Ternyata hanya dari petir yang berlangsung beberapa detik, bisa menimbulkan kerugian sampai ratusan juta rupiah.

(***)

Tanpa terasa ,5 minggu petualangan di laut Vietnam akhirnya terlewati
Rasa cemas, kaku , lambat berbicara dalam bahasa inggris, Kurang bisa menangkap dengan jelas pesan telefon dalam bahasa inggris, grogi ketika berdiskusi langsung dengan orang bule klien yang jauh lebih berpengalaman menjadi kenangan tersendiri yang tidak akan terlupakan,

Namun dari semua ketidaknyamanan itu, saya yakin bahwa dimana ada ketidaknyamanan, maka disana akan ada kemajuan.

Kapal Elnusa Finder tidak akan pernah berhenti mengarungi lautan, sama seperti semangat kami, yang tidak akan pernah berhenti.

Best Regards
Denni Pascasakti
Kupang 18 February 2012 ; Pk 12:43
www.dennipasca.blogspot.com