Thursday, April 07, 2011

6 Fakta mengenai Kondisi Migas di Indonesia

Beberapa hari lalu, saya sempat membaca buku “Habibie dan Ainun” yang ditulis sendiri oleh Prof. B.J Habibie, ada beberapa point yang membuat saya terkagum kagum dengan sosok Habibie, Salah satunya kerena beliau memiliki peran besar dalam membangun Indonesia jauh sebelum menjadi presiden, dan menyumbang ilmu pengetahuan berharga bagi dunia internasional, salah satunya beliaulah yang menjadi pemrakarsa didirikan nya BPPT, RISTEK, Bapenas, dan Puspitek, serta PT Dirgantara Indonesia, dan juga beliau menyumbang suatu “Konstanta Habibie” yang dipakai sampai sekarang sebagai konstanta dalam dunia penerbangan internasional. Baru tahu kan? Saya juga baru tahu…

Padahal sebelumnya, Pak Habibie sudah bekerja di Jerman dengan gaji yang luar biasa, Namun karena mendapat permintaan dari presiden Soeharto untuk memimpin Indusrti penerbangan di Indonesia, Pak Habibie langsung menyangupi nya, walaupun dengan gaji yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan gaji ketika di Jerman.. Mengapa ? Jawaban nya karena Pak Habibie memiliki Loyalitas yang besar untuk memajukan Bangsa Indonesia..

Namun coba bandingkan dengan keadaan jaman ini, Perusahaan asing yang bertebaran puluhan bahkan ratusan di Indonesia, masih menjadi impian para sarjana dan lulusan lulusan baru dengan gaji yang selalu diatas perusahaan nasional. Karena saya bekerja di Perusahaan Migas nasional, selama beberapa minggu ini saya menyempatkan waktu di malam hari untuk melahap buku buku yang membahas mengenai Keadaan migas di Indonesia. Perasaan saya agak miris setelah banyak yang saya ketahui bahwa di Negara sendiri kita masih seperti dijajah oleh perusahaan asing,

Fakta – Fakta tersebut diantaranya adalah :

1. Hanya sekitar 25% Kepemilikan Blok Migas yang dikuasai oleh perusahaan Migas milik negara.



Saya memiliki peta blok persebaran migas di Indonesia, setelah saya cermati ,ternyata dari 279 blok migas di Indonesia, hanya 72 blok yang dikuasai oleh Negara ( 25 % ) , selebihnya sebanyak 207 blok migas (75%) masih didominasi oleh pihak swasta yang hampir seluruhnya dipegang oleh perusahaan asing seperti Chevron, Total, Hess, Petrochina, Cnooc, dll.

2. Produksi Minyak mentah No.1 di Indonesia dipegang oleh Chevron, dan Produksi Gas No.1 di Indonesia dipegang oleh Total



Untuk Produksi minyak mentah di Indonesia, Tertinggi masih dipegang oleh Chevron yaitu perusahaan asing dari Amerika,yang dalam satu hari berhasil memproduksi 476 MBPD , di posisi kedua ditempati pertamina dengan produksi minyak mentah sebesar 135,6 MBPD

Untuk Produksi gas di Indonesia, tertinggi masih dipegang oleh Total yaitu perusahaan asing dari Perancis, dalam satu hari berhasil memproduksi 2.300 MMSCFD, di posisi kedua ditempati pertamina dengan produksi gas sebesar 1.107 MMSCFD.

Aneh bukan,,? Di Negara sendiri, produksi tertinggi minyak dan gas dipegang oleh perusahaan asing….

3. Kemampuan produksi Migas nasional yang sudah diolah hanya berjumlah 1.031.000 barel / hari, padahal kebutuhan migas dalam negeri sebesar 1.300.000 barel / hari



Dari keenam Kilang minyak milik Pertamina yaitu di Dumai , Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan, Kasim hanya mampu memproduksi 1.031.000 barel per hari, padahal kebutuhan migas dalam negeri mencapai 1.300.000 barel per hari.. Lalu kekurangan nya bagaimana ? Ya sudah pasti impor dari Negara lain.

Coba bayangkan, dalam satu hari, Indonesia harus mengimport minyak 269.000 barel, dalam 1 bulan Indonesia harus Mengimport 8.070.000 barel. Apalagi dalam beberapa hari ini karena terjadi krisis di Libya,menyebabkan harga 1 barel dapat mencapai sekitar 100 USD. Berarti dalam 1 bulan,, ada pemborosan devisa Negara sebesar (8.070.000 barrel) x ( 100 USD )… diitung saja sendiri..hehe… yang pasti Negara rugi besar, dan biaya nya pakai apa? Ya pasti pakai APBN yang berasal dari Pajak2 rakyat Indonesia…

NB : 1 Barrel = 158, 9873 Liter

4. Produksi Minyak dan Gas di Indonesia ataupun seluruh dunia selalu menurun setiap tahun nya. ( Jika tidak ditemukan cadangan baru, maka dalam 30 tahun ke depan, ,minyak bumi akan habis )



Saya pernah membaca dalam suatu penelitian, bahwa jika mulai tahun ini tidak ditemukan lagi cadangan-cadangan minyak baru, Maka dalam 30 tahun ke depan, cadangan minyak di dunia akan mengalami krisis dan hampir habis.

Kenapa? Jelas saja,, Cadangan Minyak bumi ibaratnya seperti balon yang berisi air, lalu terdapat lubang sebesar jarum di balon tersebut. Maka lama kelamaan balon tersebut akan kempis dan air didalam nya habis. Oleh sebab itu saat ini gencar dilakukan survey seismic, yaitu suatu survey untuk mengetahui cadangan-cadangan minyak bumi yang baru, dan sedang dilakukan penelitian menemukan sumber daya alam terbarukan seperti bioethanol dari tanaman jarak, Tenaga surya, dll

5. Kandungan CBM ( Coal Bed Methana ) di Indonesia berpotensi sangat besar ( Tujuh Terbesar di Dunia ), namun Indonesia belum memiliki teknologi untuk mengeksploitasi nya



Apakah itu CBM ? CBM yang merupakan kepanjangan dari Coal Bed Methana adalah suatu Sumber Daya Alam yang bisa dijadikan sebagai Bahan baku pengganti Gas Alam. Dari berbagai penelitian dalam dan luar negri, diprediksi di wilayah Kalimantan Timur dan Sumatra Selatan berpotensi terdapat kandungan CBM yang sangat besar (terbesar ke 7 di dunia ).

Namun dikarenakan belum ada teknologi untuk memproduksi CBM,, maka sampai sekarang CBM masih dalam tahap penelitian di Indonesia. Yang pasti jangan sampai terulang kembali kejadian seperti di Papua yaitu gunung emas Indonesia diambil oleh PT Freeport,.., Berapa milyar USD kekayaan Indonesia yang lari ke negara paman Sam, Bahkan bagi keuntungan dengan pemerintah Indonesia hanya dibawah 1%..Luar biasa…


6. Mengapa dilakukan Konversi Minyak Tanah ke Gas ?.




Pemerintah melakukan konversi dari minyak tanah ke Gas, dikarenakan dalam 1 barrel minyak mentah, setelah diolah ke dalam beberapa jenis diantaranya Bensin, aftur, aspal, bahan kimia, minyak tanah , dll. Kandungan Minyak Tanah merupakan yang paling sedikit ( sekitar 1%) dalam 1 barrel minyak mentah.

Semakin sedikit kandungan dalam 1 barrel minyak mentah, sudah dapat dipastikan harganya semakin mahal. Namun apa yang terjadi di Negara kita sebelum dilakukan konversi? harga minyak tanah masih sangat murah seharga Rp 1.500/ liter.. Kok bisa murah ? Ya pastinya disubsidi pemerintah, sehingga beban pemerintah menjadi besar dalam mensubsidi minyak tanah.

Karena itu Pemerintah Indonesia atas perintah Pak Jusuf Kalla mencoba melakukan konversi dari Minyak tanah ke gas, dan memberikan subsidi ke tabung gas 3 kg yang saat ini justru banyak membawa malapetaka bagi banyak orang.. Kenapa? Karena orang Indonesia banyak yang cerdik.Dikarenakan harga tabung 12 Kg lebih mahal, maka tabung 3 kg yang disubsidi pemerintah justru disuntik dan dipindahkan gasnya ke tabung 12 kg.. Jadilah banyak kejadian tabung 3 kg yang meledak..


Ketika Indonesia Harus Berubah


Ada suatu pepatah,”Kita tidak bisa merubah dunia,juga tidak bisa merubah saudara dan teman teman sendiri. Yang bisa kita lakukan hanyalah merubah diri kita sendiri .

Saya sampai saat ini masih kagum dengan Pak Habibie yang berhasil membuat pesawat komuter Gatot Kaca ditengah cemoohan dunia internasional dan pandangan meremehkan bangsa Indonesia ketika pesawat tersebut masih dalam tahap pembuatan. Namun Pada tahun 1997, ternyata Pak Habibie berhasil membuatnya dan memamerkan di hadapan seluruh dunia iternasional bahwa Indonesia Bisa!.

Saya sendiri yang bekerja di perusahaan oil service nasional, terkadang mengakui bahwa terdapat keterbatasan dalam hal SDM dan peralatan,.Memang di perusahaan dimana saya bekerja, masih ada Proyek kerjasama dengan perusahaan Asing. Lalu pertanyaan nya,”Mau sampai kapan kita selalu kerjasama dengan asing dan tidak bisa berdiri sendiri??? apalagi kita tidak bisa mengambil keputusan , dimana semua keputusan sudah ditangan Perusahaan Asing karena baik kapal, dan peralatan semuanya milik perusahaan asing.”

Namun apa kita menyerah begitu saja ! Saya yang ingin belajar seperti pak Habibie, mencoba untuk terus maju, dan ingin menunjukkan bahwa suatu hari nanti, Indonesia bukanlah Bangsa yang bisa begitu saja diremehkan oleh bangsa Asing.

Tidak akan pernah….

Maju Terus Indonesia..
Best Regards,
Denni Pascasakti.