Sunday, April 22, 2012

Who Trully Love Indonesia ?

Pernahkah anda menonton film yang sempat booming di tanah air berjudul “Laskar Pelangi” , Ataupun film yang belum lama ini dilaunching berjudul “Negeri 5 Menara” ?

Setelah menonton film tersebut, Saya dan anda pasti memiliki pendapat yang sama, “Keren banget filmnya, pesan moralny ngena bgt.”

Tapi dibalik pesan moral yang disampaikan, Masih ingatkah anda akan ending dari kedua Film Laskar Pelangi dan Negeri 5 menara ?

Ya.. Kedua film tersebut menampilkan Ending dimana sang pemeran utama pada akhirnya Berhasil meraih MIMPI belajar sampai ke luar negeri, dan sukses bekerja di negeri orang.

Hal Inilah yang menjadi concern, “Sebuah Mimpi untuk bekerja di luar negeri maupun belajar di luar negeri “ “Mengapa banyak yang menginginkan mimpi untuk bekerja di luar negeri , bukan bekerja di dalam negeri ?” Apakah karena jawaban sederhana yaitu Sallary ?

Saya pernah membaca berita dan menjumpai orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Asing, salah satunya seperti pembuat animasi film Transformer yang dibuat oleh orang Indonesia namun tinggal di SIngapura, kemudian contoh lainnya adalah pembuat jaringan komunikasi 4G yang merupakan ide dari Orang Indonesia yang tinggal di Jepang.

 Ternyata memang cukup banyak orang orang Indonesia yang berpotensi justru bekerja di perusahaan asing di Seluruh dunia, Why ? Karena sebuah Impian bekerja maupun belajar di Luar negeri sudah menjadi Impian hampir sebagian besar orang, Gambaran impian tsb salah satunya yang menjadi ending movie di dalam Film Laskar pelangi dan Negeri 5 menara.

(****)  

Nasionalisme Jepang dan Malaysia

Mengapa Jepang bisa menjadi negara yang Handal dalam memajukan teknologi di dunia Internasional ? Mengapa Jepang yang mayoritas masyarakatnya tidak menguasai Bahasa Inggris , tetap bisa menjadi negara yang sukses? Bertahun tahun lalu ,Terdapat sebuah suku di Jepang yang bernama Samurai, mereka memiliki rasa percaya diri dan nasionalisme tinggi, serta budaya Jepang yang kental.

Karena Jepang merasa belum cukup memiliki teknologi, kaisar Jepang memerintahkan generasi mudanya untuk belajar ke negara-negara Barat dalam jangka waktu tertentu, kemudian diharapkan mereka kembali lagi ke Jepang untuk memajukan teknologi Jepang,.

Setelah menimba ilmu, generasi muda Jepang kembali ke negaranya untuk bekerja dan membangun negaranya. Sehingga Jepang saat ini mampu mewujudkan mimpi sebagai Macan Asia dan Negara lain-lah yang harus datang untuk belajar bahasa Jepang dan mempelajari budaya Jepang.

(****)

Sama halnya dengan negara Malaysia, sudah beberapa kali saya mengunjungi malaysia dan cukup membuat saya kagum. Rakyat Malaysia sama halnya dengan Jepang yang memiliki rasa nasionalisme tinggi. Cobalah main ke Malaysia dan lihatlah bahwa hampir di sepanjang jalan tersebar bendera Malaysia. Bahkan Plang Plang Iklan memasang tulisan Besar “Inilah mobil kebanggan rakyat Malaysia, PROTON”

Apakah anda mengetahui sejarah PROTON ? 
awalnya PROTON hanyalah perusahaan Joint Venture antara PROTON yang masih perusahaan kelas Teri bekerjasama dengan Perusahaan Terkemuka Jepang Mitsubishi. Namun beberapa tahun kemudian, PROTON mampu berdiri sendiri dan menjadi mobil kebanggan Rakyat Malaysia.

Lalu bagaimana dengan ESEMKA? 

Walaupun ESEMKA merupakan mobil yang dirakit anak2 SMK dimana bahan bakunya masih didominasi import, kita tetap harus bangga, karena sudah seharusnya Indonesia memiliki mobil Nasional dan bukan lagi didominasi oleh mobil2 dari Jepang yang bahan bodinya seperti kaleng ( terlalu tipis ) dan harganya cukup mahal.  

Sebuah Persepsi dari sudut pandang berbeda

Suatu hari, teman saya yang berasal dari salah satu negara bekas Uni Soviet datang menghampiri dan bertanya, “Why Indonesian is Lazy ? Indonesia got independence more than 60 years ago, but Indonesian still cannot produce Cars, Airplane, Tank, and others. Until Now, Indonesia still import everything.” Kata kata dia yang memakai embel embel “Lazy” itulah yang membekas di hati saya,

Saya juga memiliki teman yang berasal dari salah satu negara di Eropa, dia bertanya ,”When I was working with indonesian, Why most of them working Slowly ! Time Is Money, We have to do it Fastly and Surely.” Walaupun ada pepatah di tempat kelahiran saya ,”Alon Alon asal kelakon.”, , , namun tetap saja , mereka tidak memiliki hak untuk menyebut “Slowly”.

(****)

Sebenarnya saya merasa bersyukur bisa menjadi Warga negara Indonesia, Kita bisa membandingkan dengan negara tetangga ,

di Singapura, Tanah harganya sangatlah mahal dan banyak orang tinggal di rumah susun yang bertumpukan satu sama lain, beli mobilpun hanya diizinkan 10 tahun dan pajak mobil harganya selangit.

Di Brunei, walaupun harga bensin sangat murah, tetap saja semua warga negaranya tidak dapat memiliki hak atas tanah, mereka baru bisa memiliki hak atas tanah setelah menempati selama 8 tahun.

 (****)

My last Question is ,” ,”Who Truly Love Indonesia ?” Masih adakah anak muda yang memiliki impian bekerja maupun mengambil beasiswa di luar negeri untuk memajukan Indonesia ?

Apapun jawabannya, saya pribadi menjawab,  

”Ya, saya mencintai Indonesia.”

Seberapa banyakpun kekurangan Indonesia yang saat ini banyak diungkapkan di media massa, Indonesia tetap memiliki banyak kelebihan dan menjadi tempat tinggal ternyaman di dunia.

Best Regards
Denni Pascasakti
Brunei Darussalam,
22 April 2012.
www.dennipasca.blogspot.com