Tuesday, January 21, 2014

4,5 Tahun terpenjara dalam sebuah Kawat Gigi

Sumber gambar = http://pghdentalclinic.com/

Tanggal 18 January 2014 kemarin merupakan hari yang akan selalu saya ingat. Sudah 4,5 tahun perjuangan memakai kawat gigi yang penuh dengan tantangan, sariawan, rasa ngilu setiap kali kontrol, pada akhirnya bisa selesai juga .Banyak pengalaman yang ingin saya sampaikan melalui blog ini terutama karena saya sudah melewatinya dengan berganti dokter gigi sampai dua kali, tantangan berdebat untuk melepas kawat gigi, dan biaya-biaya yang sudah saya keluarkan selama ini.

Memang ada hal-hal positif lainnya yang saya dapatkan setelah memasang kawat gigi dalam jangka waktu yang sangat lama, hal hal tersebut diantaranya gigi saya saat ini terlihat rapi, lebih rapat antar satu gigi dengan gigi lainnya, dan terlihat lebih bersih.

(****)
Alasan mengapa saya memasang kawat gigi, karena 4,5 tahun yang lalu gigi saya mulai berdesakan satu dengan yang lainnya ditambah mulai tumbuhnya gigi geraham belakang sehingga mendesak ke depan .Beberapa gigi seri dan gigi taring juga mulai terdesak dalam posisi miring.  Motivasi yang tinggi pada saat masih kuliah dulu, ditambah saya baru saja mendapatkan biaya dari bekerja part time di salah satu perusahaan penjual kaos djogja. Mulailah saya memberanikan diri untuk memasang kawat gigi dengan rekomendasi teman dalam memilih dokter gigi A yang ada di daerah Sleman, Yogyakarta.

Biaya yang dikeluarkan untuk memasang kawat gigi juga cukup besar yaitu sekitar 3,5 juta. Biaya tersebut mencakup pembersihan karang gigi, pemasangan kawat dan bracket, serta pencetakan model gigi dan rontgen. Setelah gigi terpasang, kita harus melakukan kontrol setiap 2 minggu sekali dengan biaya 50.000.

Pada awal-awal pemasangan memang rasa-rasanya ada hal yang aneh di bagian gigi, rasa ngilu karena gigi ditarik untuk dikencangkan , dan sulit untuk makan. Namun setelah 2 bulan berjalan, kita akan mulai merasa terbiasa. Kontrol gigi juga biasanya saya lakukan selama satu bulan sekali dan seiring berjalannya waktu, ditambah setelah lulus dari kuliah saya harus bekerja di laut dengan pola bekerja lima minggu lima minggu, maka saya baru  melakukan kontrol gigi menjadi setiap lima minggu sekali.

Sepanjang Perjalanan
Setelah saya perhatikan , gigi saya sudah rapi di satu tahun pertama sejak pemasangan kawat gigi, namun entah mengapa setiap kali saya bertanya,”Apakah saya bisa melepas kawat gigi ini dokter ?” jawaban yang saya dapatkan selalu,”Belum saatnya mas, nanti dulu ya sampai benar benar stabil giginya.” Hari demi hari saya lewati sampai tidak terasa sudah 3,5 tahun.

Sejak saya perhatikan di satu tahun pertama sampai setelah 3,5 tahun, susunan gigi tetap tidak ada yang berubah, sehingga saya memutuskan untuk kembali bertanya ke dokter A, “Dokter, kapan saya bisa mulai melepas kawat gigi ini,? Karena saya sudah merasa tidak nyaman.” Namun jawaban yang saya dapatkan justru membuat kecewa dan aneh. Dokter tersebut menjawab,”Ah buat apa mas buru buru, banyak kok orang orang yang memasang kawat gigi selama lamanya. Kalau mas mau, bisa juga dipasang sampai tua nanti.”

Mulai dari situ saya merasakan ada hal yang aneh, “Is this just about Money?” Saya mulai bertanya kepada teman teman untuk meminta opini dan sebagian besar menjawab gigi saya sudah rapi dan sudah waktunya untuk bisa dilepas. Rasa respek dan percaya kepada dokter A pun semakin lama semakin memudar , sehingga saya memutuskan untuk mencari dokter gigi lain. Perlu diingat bahwa di dalam mengambil keputusan harus ada “Second Opinion.”

Thursday, January 09, 2014

Beasiswa 2005 tahun ajaran 2013/2014


Liburan pada kesempatan kali ini membuat saya sangat bahagia. Hal pertama karena saya bisa merasakan Natal dan Tahun baru di Rumah. Natal dilakukan bersama sama keluarga besar yang ada di Yogyakarta, sedangkan Tahun baru kami bisa menikmati melihat kembang api di Jalan utama Malioboro. Sungguh indah.

Hal kedua yang membuat saya bahagia, karena cita cita kami angkatan 2005 kembali terwujud untuk merealisasikan beasiswa 2005. Ada beberapa kemajuan dari beasiswa tahun ajaran 2013/2014 ini jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kemajuan tersebut diantaranya saat ini kami dapat memberikan beasiswa 2005 kepada 2 orang mahasiswa yang mengcover biaya BOP selama 2 semester, untuk tahun sebelumnya kami hanya mengcover selama 1 semester saja.

Lalu kemajuan lainnya untuk sertifikat beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa sudah memiliki kualitas yang lebih baik dengan kertas tebal yang bertekstur, dan sertifikat sudah ditandatangani oleh ketua jurusan Teknik Geodesi UGM disertai cap jurusan. Sehingga dengan kualitas kertas dan legalitas yang baik diharapkan beasiswa tersebut bisa disimpan untuk jangka waktu yang panjang dan memiliki kebanggan tersendiri bagi mahasiswa yang meraihnya J

(****)
Seleksi awal Beasiswa 2005 dimulai dari pengumpulan berkas berkas mahasiswa sesuai dengan persyaratan yang sudah kami tentukan. Dari berkas berkas tersebut, kami mendapatkan 7 orang mahasiswa Teknik Geodesi UGM yang kemudian kami undang untuk mengikuti seleksi Interview pada hari Selasa, 12 November 2013.

Pada saat Hari H interview, terdapat 3 orang perwakilan dari angkatan 2005 yaitu saya, Wahyu Marta dan Asep Ali Usman. Sore itu setelah kami datang ke kampus sekitar pukul 15:00 sore, namun hanya ada 3 orang yang sudah menunggu di lobi, sedangkan empat orang lainnya masih belum datang. Setelah berlalu 15 menit ,saya  mengirimkan SMS kepada mahasiswa yang belum berkumpul dan pada akhirnya satu persatu mahasiswa mulai datang ke lobi geodesi sampai akhirnya seluruh mahasiswa yang akan mengikuti interview beasiswa 2005 sudah hadir.Untuk ruang Interview, kami juga dibantu oleh Dosen pak Abdul Basith yang dengan baik hati meminjamkan lab Hidrografi yang bersih dan ber-AC sehingga ruangan menjadi sangat nyaman untuk dilakukan wawancara.  J

Di dalam wawancara, satu per satu mahasiswa kami berikan pertanyaan pertanyaan intensif yang harus dijawab dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris, Hal ini bertujuan bagi kami untuk mengetahui sejauh mana kemampuan bahasa Inggris mahasiswa secara umum. Pertanyaan lainnya mencakup kemampuan ekonomi, prestasi akademik dan non akademik, pertanyaan kepribadian, pengalaman bekerja, pengalaman organisasi, dan hal hal pengetahuan umum lainnya tentang geodesi.

Memang tidak mudah dalam memilih 2 dari 7 orang mahasiwa yang akan terpilih menerima beasiswa 2005. Dari hasil rekap penilaian yang mencakup beberapa point diatas ditambah juga dengan artikel mengenai geodesi, kami perwakilan angkatan 2005 mulai mendiskusikan hal hal secara detail, point positif yang dimiliki mahasiswa dan juga hal yang cukup penting adalah kemampuan ekonomi. Namun seperti dalam diskusi pada umumnya bahwa pilihan masing masing orang berbeda beda, sehingga kami berperan dalam menyatukan suara yang pada akhirnya kami dapatkan setelah 30 menit berlalu.

Nama nama 2 orang mahasiswa juga kami sosialisasikan  kepada angkatan 2005 sehingga banyak saran dan masukan yang bisa menjadi bahan pertimbangan dan bertujuan untuk mencapai kata sepakat. Setalah 1 bulan sejak diumumkan di angkatan 2005, ternyata nama nama yang diajukan tetap tidak berubah, sehingga keputusan tersebut sudah bulat dan segera kami sosialisasikan pemenangnya di Facebook, email, dan kepada pihak Jurusan teknik Geodesi UGM.

(****)

Sunday, January 05, 2014

Buku Pelayaran 5 Samudera

(Andi Arsana, Dosen Teknik Geodesi UGM)
“Buku ini berisi kisah nyata Denni Pascasakti, seorang pemuda Indonesia yang berjuang mencari cadangan minyak dunia di lautan lepas dengan kapal berbendera Indonesia. Buku ini akan mengajak kita bertualang di lima samudera sambil menikmati serunya pemetaan laut yang dituliskan dengan ringan dan enak dibaca oleh siapa saja. Lebih dari itu, buku ini mengajak kita terbuka dengan berbagai peradaban dengan tetap menjaga semangat nasionalisme.”

(Tunggul Kusumo, Alumni Geofisika ITB dan Praktisi Survey Seismik )
“Denni merupakan sosok yang penuh semangat dan inspiratif. Dengan tulisan tulisan yang ringan, sederhana dan mudah dipahami, semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi dalam mencapai kesuksesan serta mengejar impian bagi generasi muda lainnya.”

(Made Sapta, Mahasiswa Teknik Geodesi UGM )
“Tidak banyak orang yang bisa mengarungi 5 samudera diusia semuda Mas Denni. Gambaran mengenai bagaimana bekerja ditengah Samudera serta informasi penting mengenai offshore disampaikan secara menarik di buku ini. Ditambah lagi berbagai kisah yang memotivasi membuat buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang haus akan pengetahuan dan motivasi.”

(****)

Kalimat diatas merupakan pendapat yang disampaikan oleh beberapa sahabat dekat yang sudah menyempatkan untuk membaca draft buku sejak beberapa bulan yang lalu. Pada awalnya saya menulis secara rutin 2 catatan setiap satu bulan sejak tahun 2010. Namun tanpa disadari lama kelamaan catatan catatan tersebut menjadi sangat banyak.

Saya sebenarnya berniat hanya mempublish tulisan mengenai offshore di halaman blog pribadi saja, tetapi saya menyadari  banyak dukungan dari teman teman baik dari kampus maupun lingkungan kerja untuk mempublikasikannya melalui buku, karena menurut mereka cerita yang saya tulis mengandung unsur motivasi dan bisa menginspirasi generasi muda untuk melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat lainnya.