Monday, September 05, 2016

The First Step of Blue Pacific



“Perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama”

(****)
Sejak saya tinggal di Yogyakarta, saya senang ketika melihat kos kosan  yang tertata rapi , memiliki taman, dicat elegan, dan memiliki pagar yang rapi didepannya. Pada saat itu, saya hanya bisa membayangkan dan mem-visualisasikannya dalam alam pikiran saya sendiri dan berfikir, “Suatu hari  nanti, saya harus bisa memiliki kos kosan seperti ini”

Saya yakin akan adanya pepatah lama yang mengatakan bahwa “Perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama”. Oleh karena itu, langkah pertama untuk memulai sebuah kos kosan pastinya bahwa kita harus memiliki tanah. Sejak saat itu, saya begitu terobsesi untuk mencari tanah di daerah Yogyakarta yang dekat dengan daerah kampus.

Proses pencarian tanah ini sebenarnya sudah saya mulai sejak tahun 2013, banyak sekali lika liku dalam mencari tanah yang tepat dan bersertifikat. Oleh karena itu, melalui artikel ini, saya ingin kembali menceritakan berbagai pengalaman menarik selama kurang lebih 2 tahun sampai akhirnya saya menemukan lokasi yang tepat dengan legalisasi yang jelas.

Pengalaman pertama, saya mencari makelar yang menjual tanah di seputaran jalan Kaliurang, Akhirnya ketemu! Beliau membawa saya ke lokasi tanah di daerah jakal km 7, Namun dengan luas 300 m, total harganya menjadi luar biasa mahal. Satu hal yang saya heran, dengan harga yang sudah mahal, status tanahnya masih Girik/Letter C. Sehingga saya mulai mundur.

Pengalaman kedua, saya menemui makelar yang agak “sangar” karena badan dan tangannya bertato. Saya mulai merasa kurang nyaman dari sejak awal, tapi saya coba jalani terlebih dahulu. Ketika tiba di lokasi tanah, Lokasinya kurang tepat karena terrain tanahnya menurun, harganya mahal, dan yang lucu-nya, Sertifikatnya masih tanah Pertanian ! Saya sudah paham untuk tanah pertanian selain harus dikeringkan, Balik namanya harus satu kecamatan. Kali ini saya mulai mundur lagi untuk kedua kalinya.

Pengalaman ketiga, Lokasi sudah tepat karena pinggir jalan, Jalannya-pun sudah beraspal, Harga masih masuk akal untuk lokasi yang strategis. Janjian-lah saya untuk bertemu dengan tuan pemilik tanah. Setelah bertemu, Saya sedikit kurang nyaman karena pemilik tanah justru lebih galak. Wajar jika saya sebagai pembeli ingin bertanya lebih banyak, namun pemilik tanah menjelaskannya dengan nada agak tinggi dan kasar. Aneh sekali! Hal terakhir yang membuat saya mundur karena “Nama Pemilik” di sertifikat ternyata bukan nama beliau, melainkan masih nama pemilik lama.Namanya pun tidak tertera pada dokumen Jual Beli. Saya tertawa dalam hati karena legalisasi yang tidak jelas namun pemilik tanah masih “ngotot” ingin menjual tanahnya, Lagi lagi kali ini saya mundur kembali.

Pengalaman Keempat, Kelima, Keenam hampir sama dengan pengalaman sebelumnya, Selain harganya yang sungguh tidak masuk akal, atau lokasinya yang masih di pelosok pedalaman, pernah juga saya ditawarkan lokasi tanah disebelah kandang ayam dan kandang sapi. Hehehe.. Siapa  juga orang yang mau ngekos kalau di sebelahnya bau Sapi dan bau ayam. :p Namun saya masih belum menyerah dan terus mencoba.

Banyak yang bilang “Tanah atau rumah itu jodoh jodohan.” Betul sih, memang harus berjodoh dulu baru Deal ! Setelah 2 tahun pencarian panjang, baru pada tahun 2015 lalu, saya menemukan lokasi yang cocok karena dekat dengan kampus, harganya masuk akal, dan yang lebih penting lagi legalisasinya terjamin dan jelas. Sebelum membeli saya meneliti dengan ekstra hati hati sampai mengunjungi 2 Notaris untuk Cross Check dan validasi BPN. Semuanya Clear ! Sehingga tanpa berlama lama saya-pun langsung Deal dengan Pembeli yang orangnya ramah dan santun, Beliau juga mau menemui ke beberapa notaris untuk pengecekan di saat beliau harus menjemput anaknya di sekolah.

Setelah saya memiliki tanah, saya mulai membangunnya pada tanggal 17 Agustus 2016 lalu tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia. Selain mudah untuk mengingat tanggal penting peletakan batu konstruksi pertama, Hal lainnya saya berharap semoga dengan dimulai-nya di hari kemerdekaan Indonesia, hal ini dapat memberi semangat merah putih dalam terus membangun sampai selesai nanti dan bermanfaat bagi banyak orang.

Prinsip saya dalam berbisnis, saya harus membawa manfaat bagi banyak orang diantaranya keluarga saya, orang lain dan masyarakat sekitar. Sehingga saya berharap bahwa kehadiran saya di dunia, bisa menjadi terang dan berguna bagi orang lain. Saya percaya bahwa untuk memiliki cita cita, semuanya diawali dari sebuah mimpi, memvisualisasikannya, dan segera mengambil langkah pertama untuk mewujudkannya.

Semoga Bermanfaat.
Denni Pascasakti

No comments: