Friday, December 13, 2013

Eksplorasi Minyak Laut Dalam di Benua Hitam



Sudah tiga minggu berlalu di perairan laut dalam Afrika, sejauh mata memandangpun hanya terlihat ujung lautan berwarna biru terang. Lalu dimana letak daratan ?

Perjalanan kali ini merupakan pengalaman pertama saya ditempatkan di proyek eksplorasi minyak bumi terbesar di benua hitam. Metode yang dipergunakan belum pernah saya coba sebelumnya. Setelah mengikuti beberapa presentasi intensif dan membaca sekumpulan buku buku tebal yang harus dipelajari dalam waktu singkat, saya baru memahami bahwa metode yang digunakan bernama Azimut .

Pada saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda, minyak bumi masih sangat mudah ditemukan di daratan karena minyak sudah muncul dengan sendirinya ke atas permukaan tanah. Kemudian seiring berjalannya waktu, minyak mulai dicari sampai kedalaman 10-20 meter, semakin lama manusia terus mencari cadangan minyak di darat dengan kedalaman yang semakin bertambah. Namun manusia mulai menyadari bahwa cadangan minyak di darat semakin habis dan jumlahnya terbatas.

Oleh karena itu manusia mulai melirik lautan. Cerita nya hampir sama persis dengan eksplorasi di darat, pada awalnya minyak dicari di kedalaman yang cukup dangkal, namun setelah banyak cadangan minyak ditemukan dan jumlahnya semakin berkurang, manusia kembali mencari metode apa yang paling efektif untuk menemukan minyak di laut dalam dengan kemampuan menembus lapisan tanah yang cukup dalam dan lapisan garam tanpa ada pemantulan kembali ke atas. Setelah riset demi riset dilakukan, pada akhirnya ditemukan metode yang paling efektif untuk menggambarkan lapisan tanah di laut dalam adalah dengan menggunakan metode Azimut.

Azimut adalah sebuah proyek eksplorasi yang terdiri dari beberapa kapal pembentang kabel ditambah beberapa kapal penarik source. Kapal yang dilibatkan dalam proyek ini bukan hanya 1 kapal saja, melainkan bisa mencapai 5 – 8 kapal. Bisa dibayangkan berapa banyak komunikasi radio yang didengar sehari hari di dalam radio UHF maupun VHF ? Disinilah saya ingin kembali menceritakan pengalaman saya sebagai Navigator yang harus banyak berkomunikasi dengan berbagai departemen di dalam satu kapal dan juga harus berkoordinasi dan saling memberi informasi dengan kapal kapal lainya yang berjumlah 6 kapal. Bisa juga dibilang bahwa pekerjaan Navigator sangat baik ketika diisi oleh orang orang yang suka mengobrol dan aktif dalam menyampaikan ide serta pendapat.
(****)

Saya jadi ingat bahwa pada saat saya masih kuliah , disana berkembang pepatah yang mengatakan,”Pada saat bekerja yang penting itu keahlian , sedangkan komunikasi itu nomor kedua karena orang pasti akan tahu kalau kita punya kemampuan bagus.” Nah yang sekarang saya alami pada saat bekerja dengan teman teman dari Western, disini justru berkembang pepatah ,”Salah Satu hal yang terpenting dalam bekerja adalah komunikasi , kamu boleh punya kemampuan banyak, namun apa gunanya kalau kamu tidak bisa meyakinkan manusia dalam bekerja melalui komunikasi.”

Ternyata saya menyadari bahwa berbeda tempat, beda-beda juga pepatah yang dipercayai, tinggal bagaimana kita menilai nasihat mana yang lebih tepat dan cocok untuk dijalankan. Namun untuk saya pribadi, komunikasi merupakan hal terpenting kemudian didukung oleh skill dan kemampuan. Saya juga memahami setelah bekerja di perusahaan Multinasional bahwa komunikasi bahasa Inggris itu sangat Penting.
Suatu hari teman filiphina pernah saya tanyakan,”Rata rata orang filiphina kok bahasa inggrisnya bagus ya, kamu mulai belajar dari kelas berapa ?” Jawaban yang membuat saya kaget, dia menjawab,”Kalau kita sih sudah diajarkan sejak dari TK, jadi bahasa inggris sudah seperti bahasa kedua setelah Tagalog. Wew, saya membayangkan bahwa untuk saya sendiri baru mempelajari bahasa inggris ketika duduk di kelas 3 SMP, sedangkan teman filiphina ini sudah dari TK, pantas saja bahasa Inggrisnya sangat lancar dan tidak terbata bata lagi dalam memikirkan grammar, tenses, dll.

Atau mungkin oleh karena bangsa Indonesia sangat bangga dengan kebudayaan yang beraneka ragam, sehingga lebih menginginkan  generasi muda untuk mempelajari bahasa daerah terlebih dahulu daripada bahasa Internasional  ? Karena rasa penasaran, saya pernah mencoba menanyakan tentang bahasa daerah kepada teman saya yang berasal dari Inggris, “Kalau di Inggris, apakah masih ada bahasa daerah yang harus dipelajari oleh anak anak muda?” Jawabannya teryata tidak ada, karena pemerintah Inggris sudah sejak belasan tahun lalu mewajibkan bahasa Inggris adalah bahasa satu satunya yang digunakan di Inggris.

Jawaban yang sama juga saya dapatkan ketika saya bertanya kepada teman yang berasal dari Perancis, disana mereka berbicara dalam satu bahasa yaitu bahasa nasional Perancis. Karena bangga dengan bahasa Nasional, daerah jajahannya di Afrika pun menggunakan percakapan sehari hari dengan bahasa Perancis. Sedangkan di Indonesia, mungkin setiap 100 km dapat ditemukan bahasa daerah yang berbeda beda dan juga masih digunakan oleh generasi muda dalam percakapan sehari hari.

(****)

Cukup jauh perjalanan yang harus saya tempuh menuju benua Hitam ini mencakup Yogyakarta -> Jakarta -> Singapore -> Johanesberg -> Angola. Belum lagi masih ditambah waktu transit di masing masing bandara yang cukup lama, jadi ketika saya akumulasi total perjalanan udara dari Yogyakarta sampai Angola menjadi sekitar 22 jam.

Dalam 3 tahun pertama ketika saya bekerja di proyek eksplorasi Migas, biasanya lokasi proyek hanya di sekitar wilayah asia Tenggara mencakup Malaysia, Vietnam, Filiphina, Indonesia, India. Sehingga waktu untuk transit berangkat maupun pulang ke rumah rata rata hanya sekitar 2-3 jam saja di atas pesawat, namun saat ini situasinya sudah berbeda karena lokasinya sudah jauh berada di sisi barat Negara Indonesia, sehingga saat ini harus lebih banyak bersabar dalam perjalanan di atas pesawat yang biasanya saya habiskan dengan menonton film layar lebar.

Oleh karena perjalanan udara yang mencapai 22 jam ini , saya mulai jadi menyukai film film korea, padahal sebelumnya belum pernah menonton film korea. Salah satu film terakhir yang saya tonton dan terbilang bagus adalah film “The Flu” , sungguh baik tata letak dan persiapan yang dilakukan tim kru film, serta ending film yang begitu menegangkan. Hal ini berbeda dengan rata rata film Indonesia yang sudah sangat sering saya tonton ketika berada di atas kapal. Film Indonesia didominasi oleh 2 tema besar yaitu Film horror dengan pemeran wanita wanita seksi yang terkadang tidak berhubungan dengan judul film, atau film kisah percintaan yang banyak berakhir menyedihkan di akhir cerita dan dihiasi tangis tangisan. J

Eksplorasi ini cukup jauh sampai ke Afrika karena saat ini tidak begitu banyak proyek eksplorasi di wilayah Asia tenggara terutama di Negara Indonesia. Sudah 2 tahun belakangan , kapal ini belum pernah kembali lagi ke wilayah perairan Indonesia, saya sendiri kurang paham,. Apakah dikarenakan tidak banyak proyek eksplorasi migas laut dalam di Indonesia atau karena akhir akhir ini banyak kasus kriminalisasi yang melibatkan pimpinan oil and gas. Saya masih mengingat kasus dibubarkannya BP migas menjadi SKK migas, padahal sejauh yang saya ketahui hanya pucuk pimpinannya saja yang dirubah dan berganti nama, sedangkan karyawan didalamnya sama. Apakah ini kepentingan politik?

Kemudian salah satu figure yang saya sangat hormati yaitu Prof. Rudi karena beliau memang ahli di bidang oil and gas dan banyak membuat kebijakan penting untuk meningkatkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di Indonesia. Namun beliau justru terlibat skandal korupsi senilai 600.000 dollar ditambah sogokan satu buah motor gede BMW yang semakin memperburuk citra yang telah dibangunnya selama puluhan tahun. Saya juga tidak tahu apakah ini termasuk gratifikasi, kepentingan politik, atau kriminalisasi? Mungkin hanya pihak KPK yang bisa menentukan keputusan serta sangsi yang diberikan.

Sepertinya Negara kita saat ini terlalu sibuk mengurusi Pembubaran BP Migas dengan alasan karena BP Migas lebih banyak memihak kepada Perusahaan asing, mencari koruptor yang diduga banyak mencuri uang rakyat, dan segala macam hal adminisrasi lainnya. Negara kita justru melupakan tugas terpenting yang harus dilakukan untuk terus melakukan proyek Eksplorasi dan Eksploitasi minyak dan gas untuk menjaga pasokan minyak tetap lancar selama beberapa tahun ke depan. Karena Eksplorasi saat ini akan sangat menentukan produksi minyak untuk 5 – 10 tahun ke depan, belum lagi ditambah Kilang Minyak Pertamina yang terakhir dibangun itu hampir sekitar 20 tahun yang lalu pada tahun 1994 oleh presiden Soeharto, setelah itu kita mulai melupakan pekerjaan untuk membangun kilang minyak sendiri dan mulai memilih mencari jalan pintas dengan mengirimkan minyak mentah ke Singapura untuk diproses menjadi minyak olahan. Jalan pintas memang cara yang paling mudah ditempuh, namun menyebabkan Indonesia akan selalu tergantung dengan bangsa lain. Kemudian saya menbaca berita di koran bahwa Pertamina berencana akan membangun gedung tertinggi ke 6 di dunia setinggi 555 meter yang akan dibangun di daerah Kuningan. Menurut pendapat saya sedikit berlebihan, mengapa? Karena membuat kilang minyak saja kita beralasan belum cukup dana untuk investasi dan masih bertanya-tanya apakah SDM nya mampu untuk mengurusi kilang minyak yang baru? Namun di sisi lain , ternyata kita sudah mampu membangun gedung pencakar langit setinggi 555 meter !

(****)

I think that’s enough for my articles today. Saya harus kembali melanjutkan perkerjaan dalam menentukan arah kapal di benua hitam ini. Sampai bertemu di Yogyakarta untuk satu minggu ke depan. Merry Christmas and Happy new Year .

Laut Afrika, 13 Desember 2013
Denni Pascasakti



1 comment:

anton said...

Ditunggu untuk berbagi d kuliah umum offshore oleh komunitas offshore indonesia yng sudh berjalan ke topik ke 101. Click https://www.facebook.com/groups/541824999182681/