Thursday, October 31, 2013

Perjalanan menembus imigrasi di Namibia (Afrika)


Tiket keberangkatan menuju benua hitam ternyata sudah masuk di kotak email. Mengapa ya 5 minggu di kapal terasa lama sekali, namun ketika 5 minggu di rumah terasa sungguh cepat? Saya juga dikirimkan Travel Information Sheet (TIS) yang memberikan informasi singkat seputar Negara tujuan yaitu Namibia di Afrika.
“Do not go outside Hotel because it’s dangerous.”

Di dalam TIS tertera informasi yang melarang keluar hotel ketika di Namibia karena sangat berbahaya dan bisa menjadi target perampokan. Lalu terdapat saran lainnya untuk mengkonsumsi Mallarone atau sejenis pil Kina. Sekedar informasi bahwa Benua afrika merupakan daerah potensial penyebaran penyakit malaria, Jenis malaria disana termasuk yang paling mematikan di dunia. Sehingga pilihan untuk mengkonsumsi mallarone merupakan saran terbaik demi mencegah malaria.

Mallarone dapat diminum 1 hari sebelum keberangkatan menuju lokasi, dan tetap dikonsumsi setiap hari sebanyak 1 pil sampai dengan 7 hari setelah kita meninggalkan lokasi. Menurut petunjuk didalamnya lebih baik jika diminum bersama dengan makanan dan susu, karena pil Mallarone memiliki efek samping yang cukup mengganggu. Beberapa teman saya ada yang mengalami diare, kemudian berhalusinasi, dan sakit kepala. Kalau pengalaman pribadi saya setelah mengkonsumsi, saya merasakan jantung berdebar debar lalu sulit tidur malam, namun bagaimana pun efek samping tersebut masih lebih baik daripada terjangkit malaria. :)

(****)
Keberangkatan kali ini cukup membuat saya bingung, Tiket dari Jakarta -> Singapore -> Johannesberg -> Namibia sudah diterima, namun Visa menuju Namibia masih juga belum ada. Bagaimana mungkin bisa menembus Imigrasi Namibia di Afrika jika saya belum memiliki visa ?

Setelah sampai di Bandara Soekarno hatta, saya hanya duduk di depan loket Check-In Singapore Airlines sambil menunggu email masuk di handphone mengenai Visa. Namun 30 menit sudah berlalu, tetap saja tidak ada kabar mengenai visa. Akhirnya saya membuka laptop dan mencoba koneksi internet menggunakan modem lalu segera membuka Chat Communicator dengan Koordinator kru yang ada di Norwegia.

“Yes, Alene is Online!”

I start typing ,”I’ve been sit down in front of check in desk for 30 minutes, but still no Visa. Please make sure I will get Visa before Check in desk will be Closed in another 50 minutes, Otherwise I will cancel this trip to go to Africa.”

Kru korrdinator mulai panik membaca email dari saya, kemudian dia berjanji segera menelfon agen yang ada di Namibia dan segera mengirimkannya kepada saya. Mau tidak mau saya hanya bisa menunggu dan menunggu kabar ketidakpastian ini.

Lalu Alene mulai berkata,”I got your Visa, I will send it immediately to your email, please check it. And Could you print it out in airport the document?”

Baru kali ini saya bingung untuk menemukan tempat yang bisa me-ngeprint Visa di bandara soetta, tidak menyerah saya coba lari ke check in counter, meminta denga berharap harap cemas supaya diperbolehkan mencetak dokumen satu lembar saja. Supervisor nya pun datang dan berbaik hati mengajak saya ke dalam ruangan, namun ternyata tintanya habis.

Cara terakhir saya mencoba menghubungi teman seperjuangan di kapal yang juga sedang dalam perjalanan menuju bandara,”Rico , Aku sudah mengusahakan visa untuk kita berdua dan sudah dapat, tapi permasalahannya gak ada tempat buat ngeprint di bandara, Kamu ada ide?”

Tanpa saya duga duga Rico menjawab,”Aku bawa printer nih den dari rumah, nanti kamu tunggu aq saja di depan bandara ya, kita tinggal cari colokan power untuk printernya saja.”

(****)

Rico berlari dengan tergesa gesa sambil membawa printer menuju kearah saya bersama istri dan anak laki laki pertamanya, lalu kami mecoba mencari Power supply di dalam bandara dari ujung kiri sampai ujung kanan. “Waduh gag ketemu bro?”

Petugas yang sedang bersih bersih lantai kemudian bertanya kepada kami,”Sedang nyari apa pak?” Kami menjawab,”Sedang mencari colokan power pak buat printer.”

Petugas yang sepertinya sangat hafal semua tempat tempat strategis di bandara pun menunjukkan jarinya ke arah luar bandara dekat pintu masuk kaca, “Itu pak colokannya ada di sebelah kanan.”

Setelah mengucapkan terima kasih, kami menuju ke colokan power dan mempersiapkan semuanya mulai dari laptop, mouse, dan printer. Lucunya satu colokan ini dibuat pararel sampai kira kira ada 10 lubang power.haha. Tapi gag apa apa, show must go on.

Dua lembar visa pada akhirnya berhasil kami cetak, dan ada lagi satu hal yang membuat saya bingung, ternyata visa Namibia Afrika itu hanya berupa tulisan tangan! Benar benar Negara yang aneh, masa membuat visa tulisan tangan saja sampai membutuhkan waktu 2 minggu.

(****)

Hanya sekitar 15 menit sebelum check in counter ditutup, kami berhasil mendapatkan visa Namibia. Terpancar senyuman puas dikarenakan perjuangan lari kesana kesini ternyata membuahkan hasil. Setelah kami menaruh bagasi dan membayar airport tax, kami berjalan menuju loket immigrasi, dan Rico mengucapkan salam perpisahan dengan keluarganya untuk kesekian kalinya karena harus bekerja di offshore.

Di loket immigrasi, karena saya masih memakai paspor biasa, jadinya saya tetap harus mengantri panjang dan menghadapi pertanyaan pertanyaan dari petugas immigrasi yang terkadang “nyeleneh”. Rico terlihat sungguh santai karena sudah memegang passport elektronik sehingga tidak perlu mengantri lagi. Rico hanya masuk ke pintu otomatis kemudian memasukkan sidik jari dan rekam wajah, kemudian pintu gate terbuka tanpa adanya pertanyaan pertanyaan “nyeleneh”.

Keinginan untuk masuk ke executive lounge pun menjadi tidak bisa dilakukan karena pesawat sudah mau boarding, sehingga kami langsung masuk ke dalam gate dan terbang menggunakan Singapore airlines dari Jakarta menuju Singapura kemudian Johannesberg.

Tersandung di Johannesberg
Bandara Johannesberg cukup besar, namun tidak seperti yang saya kira dimana akan banyak menemui orang orang Negro. Di Afrika selatan ternyata masih sangat banyak orang orang bule, entah bagaimana tepatnya, namun menurut sejarah bahwa Afsel sudah lama diduduki oleh Inggris yang kemudian pemerintahannya didominasi oleh orang orang kulit putih untuk waktu yang sangat lama, namun saat ini politik kulit putih sudah mulai memudar semenjak berkuasanya Nelson Mandela sebagai wakil dari kulit hitam.

Walaupun  hanya transit saja di Johannesberg, namun tetap saja saya harus menembus loket immigrasi. Petugas imigrasi yang berambut gimbal dan bertubuh gemuk itu bertanya,

“What do you gonna do in Namibia?”
I said,”I am gonna join vessel in port, maybe in Namibia just only for 1 day.”

“If you want to pass this desk , you need to show your South Africa Transit Visa!”

Saya langsung kaget, bagaimana mungkin hanya transit di Afsel saja selama 2 jam, tetap harus menunjukkan visa Afrika Selatan. Sungguh tidak masuk akal. Petugas imigrasi ini sepertinya mulai mengada ada.
Saya menjelaskan beberapa kali bahwa saya tidak keluar bandara Afsel dan hanya transit 2 jam saja, namun tetap saja petugas ini bersikeras,”If you want to go, show me the Visa.”

Saya mencoba usaha lain, saya menunjukkan visa Namibia, Letter of Invitation dan Letter of guarantee disertai beberapa dokumen pelengkap lainnya yang memperkuat posisi saya untuk menuju Namibia dan sama sekali bukan untuk menjadi imigran gelap.

Tetapi usaha yang kesekian kalinya tetap saja gagal, sehingga usaha terakhir saya berkata,”I was together with 4 of my friends, but why all of them can pass this immigration without south Africa visa? And just only me  get this trouble? Please maam, Please, let me in. I Just gonna join vessel and will not go outside South Africa.

Lucky for me, petugas itu tampak luluh dan dia mengingatkan untuk lain kali kalau bepergian ke Afrika Selatan walaupun hanya untuk transit, tetap dibutuhkan Visa transit. Lalu Cap berhasil Dibubuhkan di halaman passport saya.

YES… I can pass.. J

Namibia , kota gersang dipenuhi Gurun Pasir
Perjalanan 3 jam dari Johanesberg menuju Namibia sunggguh melelahkan. Mengapa? Karena pesawat yang digunakan sangat kecil dan disesaki penumpang. Selain itu sepanjang perjalanan pemandangan yang bisa dilihat hanyalah gurun pasir yang sangat panas ditambah AC yang ada di dalam pesawat mengalami kerusakan, lengkaplah sudah.

Bandara di Namibia pun sangat sederhana, jujur saja baru kali ini saya mendarat di bandara yang terbuat dari tenda dan terpal. Bahkan isinyapun hanya ada loket pemeriksaan paspor dan visa kemudian di depan ruangan itu sudah halaman luar yang berjajar gurun pasir.

Agen yang bertugas menjeput kami kemudian mengantarkan ke hotel yang ada di Namibia, namun ada hal yang sungguh tidak bisa saya percaya. Apakah ada yang bisa menebak diantara para pembaca, Ada berapa Jumlah Hotel di Negara Namibia? Apakah 5, ada yang menjawab 8, mungkin ada juga yang menjawab 10. Namun semua jawabannya salah karena Hotel di Namibia hanya ada 2 saja ! Unbelieveable.

Jadilah saya tidak berhasil mendapatkan kamar hotel. Menunggu ketidakpastian selama sejam di depan lobi hotel tetap saja tidak ada hal yang terjadi sampai pada akhirnya agen yang kebingungan tetap memutuskan supaya kami diantarkan ke pelabuhan untuk langsung masuk ke kapal. Bisa dibayangkan setelah perjalanan hampir 24 jam, kami tidak dapat hotel dan harus langsung dikirim hari itu juga ke kapal untuk bekerja. Semoga badan saya kuat.

(****)

Kapalpun mulai terlihat dari kejauhan dan lama kelamaan merapat di dermaga. Satu per satu kru yang ada di dalam mulai keluar dan melambaikan tangan kepada saya. Ya inilah petualangan pertama saya di lautan afrika, Semoga semuanya aman dan baik baik saja ditambah kondisi cuaca yang cepat sekali berubah ubah. Suhu udara disini sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari.

Selamat Berjuang!

Best Regards.
Denni Pascasakti
Ditulis dalam perjalanan dari Angola menuju Yogyakarta. Disempurnakan di Yogyakarta
30 Oktober 20

6 comments:

Ir Iswinardi said...

Hebat ...... penuh perjuangan.

Ir Iswinardi said...

Hebat ....... penuh perjuangan.

Oki Heriansa said...

penuh tantangan dan harus pandai2 ya mas di imigrasi nya ( transit di africa )... jangan lupa masukin poto2 juga ya mas, mau lihat live suasana di sana.

terimakasih.

denni pascasakti said...

pak @iswinardi : Terima asih pak, untuk menembus Afrika memang penuh perjuangan dan harus kreatif mencari alasan agar diijinkan lewat. :)

denni pascasakti said...

Pak @oki : Betul, memang harus siap dokumen dokumen sebelum diberangkatkan ke Afrika agar tidak bermasalah ketika di Imigrasi. Foto Fotonya nanti menyusul pak, semoga sempat mengupload. :)

Amanda said...

Hi Mas Denni,

Saya mau bertanya. Kebetulan saya juga akan transit di Tambo Airport Afsel selama 3 jam. Penerbangan saya dari Tanzania dengan tujuan akhir Zimbabwe. Saya tidak akan ganti airlines. Apakah tetap perlu melewati immigration desk? Saya sudah cek ke kedubes Afsel, mereka menyatakan tidak perlu transit visa kalau memang tidak meninggal kan airport. Tapi setelah saya baca cerita Mas Denni saya jadi penasaran. Apa Mas Denni ganti airlines atau memindahkan bagasi sendiri ke connecting flight selanjutnya? Atau memang semua harus melewati immigration desk?

Terima kasih, maaf mengganggu.
Salam.