Thursday, September 12, 2013

Melancong ke Negeri-nya Para Pelaut (Norwegia)


Tahun ini saya diberikan kesempatan lagi untuk melancong ke salah satu Negeri di Eropa yang merupakan tempat lahirnya para pelaut handal Bangsa Viking dari Norwegia. Persiapan kali ini sudah saya pertimbangkan jauh jauh hari sebelum keberangkatan. Salah satu persiapan yang sedikit rumit, hanya pada saat pembuatan Visa Norwegia dikarenakan dokumen yang cukup banyak dan prosesnya membutuhkan waktu minimal 2 minggu.

Lalu apa saja yang harus dipersiapkan sebelum berangkat ke Norwegia untuk Visa business ?
  1. Passport  + Visa Norway
  2. Uang lokal Krone Norwegia / US Dollar
  3. Letter of Guarantee
  4. Letter of Invitation
  5. Pakaian Hangat
  6. Peta mencakup Airport,Hotel, lokasi training
Dua hari sebelum berangkat, saya mencoba mencari money changer untuk menukarkan Rupiah ke dalam mata uang Norwegia yaitu Krone. Perjalanan dimulai dari daerah Blok M lalu ke Fatmawati, lalu ke Pondok Indah Mall. Mungkin total lokasi money changer yang saya datangi sudah lebih dari 10, namun hasilnya tetap Nihil ! Ternyata sangat sulit menemukan Krone di Jakarta, oleh karena itu saya memutuskan untuk mengambil hanya mata uang Dollar US.

Tips : Tidak disarankan membawa rupiah untuk ditukarkan di Luar negeri, karena sangat jarang Negara Negara di Eropa yang mau menukarkan rupiah ke dalam mata uang lokal.


Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan cukup penting adalah, “Berapa temperature di Norwegia ?” Anda pasti tidak mau kedinginan karena tidak menyadari bahwa temperature di Norwegia pada akhir ahkir tahun biasanya mencapai titik terendah. Untuk mengeceknya sebenarnya cukup mudah, anda tinggal membutuhkan koneksi internet, lalu buka website www.google.com , kemudian ketikkan “Temperatur di Bergen Norwegia.” Hasilnya, anda sudah bisa memprediksi temperature selama berada di Norwegia nanti.

Hari-H menuju Bergen Norwegia
Sebelum pesawat berangkat, saya mengecek kembali dokumen dokumen dan tidak lupa juga membawa 5 bungkus Indomie yang akan sangat berguna ketika perut lapar. Sebenarnya tips ini diberikan oleh teman saya di kapal yang selalu mengingatkan ,”Setiap perjalanan ke Eropa, Jangan lupa bawa indomie dari rumah, soalnya di Eropa sulit sekali mendapatkan nasi. Indomie pasti akan sangat membantu kamu.”

Perjalanan udara saya tempuh kurang lebih 18 Jam dari Jakarta – Kuala Lumpur – Amsterdam – Bergen. Pada saat check in, tas bagasi saya langsung kirimkan sampai ke tujuan akhir yaitu di Bergen. Tips lainnya, pada saat check in, lebih baik mempersiapkan kedatangan anda 3 jam sebelum waktu Boarding, karena  saya datang 2 jam sebelum keberangkatan dan antriannya panjang sekali, sehingga terpaksa saya harus berdiri mengantri sekitar satu jam. Waktu diatas pesawat saya manfaatkan untuk menonton film film terbaru Hollywood yang ada di layar depan tempat duduk. Tiga Film saya tonton habis dan mendengarkan 1 album musik.

Salah satu hal menyenangkan lainnya naik pesawat KLM, walaupun pramugarinya belum bisa dibilang muda dan cantik karena rata rata berbadan “besar” dan “senior”,  namun setiap tiga jam, makanan selalu disediakan. Jangan berharap mereka menyediakan nasi, hampir setiap penyajiannya selalu roti dengan isi yang berbeda beda. But it’s still better than nothing.

(****)

Setelah sampai di Bandara Bergen Norwegia, saya sedikit heran, Norwegia yang terkenal dengan biaya hidup tertinggi di Eropa dan merupakan salah satu Negara kaya penghasil minyak, ternyata mereka hanya memiliki Bandar udara yang terbilang “kecil”.  Begitu sampai di Arrival hall, saya masuk ke ruangan kecil untuk mengambil tas bagasi, kemudian ada pintu keluar menuju ruangan hall yang isinya tempat Money Changer, ATM, dan pusat informasi.

(Masih ingat sebelumnya saya belum berhasil menukarkan krone di Jakarta?) Oleh sebab itu di ruangan hall ini saya mencari cari money changer. “Kok tidak ada ya?” Bagaimanapun saya harus bertanya kepada petugas informasi, “Where I could exchance money to Krone in here?”

Petugas menunjuk kepada sebuah kotak mesin yang menyerupai ATM, saya baru sadar bahwa mesin itu bukanlah mesin ATM melainkan Money Changer. Ya, karena di Eropa untuk mempekerjakan orang biasanya membutuhkan biaya yang besar, oleh sebab itu mereka lebih senang mempergunakan mesin sebagai operator dalam melakukan hal hal seperti Money Changer.

Diluar bandara, saya melihat airport bus Flybussbergen.no dengan rute dari Airport menuju kota Bergen. Namun harus diingat bahwa hampir semua transaksi pembayaran di Bergen dilakukan dengan Credit card.  Karena saya belum memiliki credit card, saya harus berjalan sedikit ke loket pembelian tiket secara cash. Tiketnya seharga 100 Krone ( 1 Krore = 2000 rupiah ), jadi perjalanan sejauh 20 km ini membutuhkan biaya sebesar 200ribu.

Busnya cukup nyaman dengan kursi longgar dan disediakan koneksi Wi-fi. Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya ,”Saya harus turun dimana?, kemudian setelah turun di halte bus, harus jalan kemana untuk menuju hotel?””.

Saya masih ingat bahwa 1 hari sebelum keberangkatan, saya sudah mengecek via Google Maps mengenai lokasi Hotel tempat saya akan menginap selama 4 hari nanti. Ternyata lokasi hotel saya betul betul pas ada di Pusat kota dan sangat dekat dengan Fish Market. Jadi saya cukup bertanya kepada petugas bus ,”I am going to fish market, could you please tell me when we arrive in fish masket?”
Petugas bus sangat baik dan beliau menjawab,”Yes indeed, Fish market is on the thirth stop. I will let you know.”

(****)

Petugas bus memberitahu bahwa saya sudah sampai di Fish Market. Setelah turun, saya coba melihat 360 derajat, “waduh , dimana ya hotelnya?” Saya tetap tidak menemukan tulisan Hotel Scandic Strand. Daripada saya harus berjalan berkeliling membawa 3 tas yang cukup merepotkan, saya melihat ada toko yang menjual kaos bertuliskan Norwegia, karena kaos tersebut cukup menarik, saya beli saja 4 untuk oleh oleh orang tua di rumah, kemudian saya mencoba bertanya lagi ,”I will stay in Scandic Strand Hotel, do you know Where is it?”

Penjual kaos yang ramah ini menunjukkan arah hotel saya yang sebenarnya sangat dekat sekitar 100 meter saja. “oh I see, thanks you very much.” Lalu dia mengucapkan “Selamat Jalan.” Hei !, dia bisa berbicara dalam bahasa Indonesia, setelah berbincang bincang lagi beberapa menit, ternyata penjual kaos ini pernah tinggal beberapa bulan di Jakarta dan Bali, that’s interesting.

Di Hotel Scandic Strand Inilah saya akan menginap selama 5 hari 4 malam ke depan, perjalanan ini untuk mengikuti training DGPS yang diselenggarakan oleh Fugro. Hal menarik lainnya, Training GPS hanya 4 hari namun saya diberikan waktu 5 hari, jadi saya akan punya banyak waktu untuk menjelajah Bergen Norwegia.

Semoga Tercapai dan Happy travelling !

Best Regards,
Denni Pascasakti
Bergen, 12 September 2013.




No comments: