Monday, October 26, 2009

Setetes darah sangat berarti



Pada hari Rabu, tepatnya 1 hari sebelum saya maju ujian pendadaran. Saya berencana melihat teman saya pendadaran terlebih dahulu untuk mendapatkan gambaran mengenai ujian yang hanya dialami sekali seumur hidup itu. Rencana berikutnya kemudian langsung pulang ke kos untuk belajar mempersiapkan ujian pendadaran esok hari.
Sesampainya di kampus pukul 09.00 pagi, saya langsung melihat teman saya selama 2 jam, dengan adegan drama ujian pendadaran yang penuh dengan berbagai tekanan. Namun ketika saya berencana pulang ke kos untuk belajar.Di koridor kampus, saya bertemu dosen pembimbing yang akan menguji ujian besok pagi memanggil saya kemudian berkata,” Denni kamu golongan darah apa?”, lalu saya menjawab,” Saya golongan darah A, Pak.” Dengan wajah penuh harapan dan tergesa gesa beliau berkata,” Denni, mau kan mendonorkan darah untuk tetangga saya yang akan operasi jantung hari ini juga?”.Secara spontan saya menjawab,” Baik pak , saya bisa.” Walaupun sebenarnya saya agak bingung, karena saat itu saya sudah berencana pulang ke kos kemudian langsung belajar, apalagi saya juga belum pernah mendonorkan darah satu kalipun.
10 menit kemudian, saya berserta 1 orang teman seangkatan 2005 naik mobil berwarna merah tahun 80-an milik dosen saya menuju panti rapih untuk segera mendonorkan darah. Ketika sampai panti rapih, kami menuju ruangan yang terletak di lantai 2. Di ruangan tersebut, saya melihat ada 1 orang berusia 30an tahun sedang terbaring kesakitan di ranjang tempat tidur rumah sakit, wajahnya tampak ketakutan. Di sebelahnya ada seorang ibu yang memegang tangan nya sambil terus mengucapkan doa, tetapi sesaat kemudian ibu itu keluar ruangan, kemudian dari sudut kamar datang seseorang dengan tinggi sekitar 170 cm, berbadan kurus dan mengenakan topi yang mungkin orang tersebut adalah kakaknya, menghampiri orang yang sakit itu kemudian berkata,” Ingat dik, kamu seorang laki laki!!, apapun yang terjadi nanti, kamu harus bisa tabah. Jangan sampai menangis. Kasihan Ibumu, jagalah perasaannya. Seorang laki laki harus siap menghadapi apapun yang terjadi, kakak selalu ada di samping kamu.” Kemudian dibalas dengan anggukan orang yang terbaring sakit itu dengan mata berkaca-kaca.
Setelah kami menemui pihak rumah sakit panti rapih untuk bertanya dimana mendonorkan darah, seorang suster berkata,” Kalau mendonorkan darah ,langsung ke bagian UGD saja di lantai satu.” Kemudian kami segera menuju UGD. Tetapi suster di UGD justru berkata,” Kalau mendonorkan darah ,bapak ke bagian PMI di lantai dua saja.” Dengan perasaan agak jengkel karena ketidakjelasan dimana tempat mendonorkan darah, kami berjalan menuju ke ruang PMI di lantai 2. Namun di ruang PMI kami tetap mengalami hal yang sama. Perawat disana berkata,” Untuk kasus operasi jantung, maka sel darah merah harus dipisahkan dari sel darah putih. Dan se-Jogja, hanya PMI pusat di daerah kota gede saja yang punya alatnya, kira-kira 15 menit dari sini.” Lalu dosen saya berkata,”Bagaimana jika kami mendonorkan disini saja, nanti pihak rumah sakit yang membawanya kesana?.” Dengan jawaban yang sedikit ketus, suster itu berkata,” Kalau donor disini dikenakan biaya 950 ribu, sedangkan kalau Bapak donor di PMI pusat, hanya dikenkan 300rb. Lagipula darah itu nantinya juga harus dibawa ke PMI pusat, karena alat pemisahnya hanya ada di sana.” Sesaat kemudian kami mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan itu.
Saya bertanya dalam hati,”Bagaimana bisa untuk kasus pengoperasian jantung, alat pemisah sel darah merah se propinsi Jogja hanya ada di satu tempat? Jauh dari pusat kota lagi! Bagaimana jika seorang pasien sudah sekarat dan harus segera didonor saat itu juga?? Masa harus tetap pergi ke PMI pusat daerah kota gede!.” Setelah beberapa saat, kami meneruskan perjalanan ke PMI pusat daerah kota gede. Sesampainya disana, kira kira ada 15 orang bergolongan darah A dari pihak keluarga yang siap mendonorkan darahnya, namun ternyata masih ada beberapa persyaratan lagi yang harus dipenuhi seperti sudah tidur minimal 5 jam, dalam 12 jam tidak minum obat, tidak menderita HIV AIDS, dan banyak persyaratan lainnya. Sehingga dari 15 orang bergolongan darah A, hanya saya dan 1 orang bapak berusian 40 tahun yang lolos persyaratan sebagai seorang pendonor.
Setelah berbaring di tempat tidur, saya melihat jarum dengan panjang 3 cm dan lebar 1 milimeter ditancapkan masuk ke lengan saya, rasanya cukup sakit sehingga saya mengepal kencang tangan saya yang sedikit kejang menerima tajamnya jarum itu. Dan seketika itu nampak aliran darah saya keluar melewati selang ke dalam kantong darah. Kira kira darah yang diambil berjumlah 350cc. Beberapa saat setelah proses mendonorkan darah selesai ,saya melihat banyak pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada saya lalu kami kembali ke kampus.Sorenya badan saya lemas sekali, dan kepala pusing, mungkin ini efek samping dari mendonorkan darah. Jadinya rencana untuk belajar saya tunda. Dan malam itu saya hanya belajar 2 jam saja kemudian tidur.
Esoknya,ketika saya bangun di hari pendadaran saya, badan sudah lumayan fit dan tepat pukul 08.00 saya sudah sampai di kampus. Dosen pembimbing saya sudah datang 15 menit sebelum ujian dimulai pada pukul 08.45, sedangkan 2 orang penguji lainnya baru datang 30 menit kemudian.Pada saat ujian, saya tidak menyangka ternyata dosen pembimbing saya sangat membantu saya dalam ujian pendadaran itu, terkadang tersenyum memberikan tanda seolah olah berkata,” Ayo Denni, Kamu pasti bisa!!” Setelah ujian selesai, dosen pembimbing saya berkata,” Denni, saya mewakili keluarga berterima kasih karena kamu sudah bersedia mendonorkan darah walaupun keadaan tetangga saya itu belum membaik, argumen dokter berkata bahwa Ia hampir tidak mungkin bisa bertahan hidup, hanya mukzizat Tuhan yang bisa menyembuhkannya.” Tepat 2 jam setelah ujian pendadaran selesai, saya mendapatkan sms dari dosen pembimbing yang memberi kabar bahwa orang itu sudah meninggal. Saya ikut berduka cita dan tidak menyangka bahwa di usia semuda itu Ia sudah kembali ke sisi Tuhan.
Pada saat saya berfikir secara sempit, mungkin darah saya tidak banyak membantu.Tetapi ketika saya berfikir secara luas, ternyata dengan menyumbangkan darah, saya bisa mempererat hubungan dengan dosen pembimbing, ujian pendadaran lancar.
Sampai saat ini, saya tetap percaya bahwa, “Ketika kita memberi segala sesuatu kepada orang lain, maka suatu hari nanti kita juga pasti akan menerima segala sesuatu dari orang lain kepada diri kita sama banyaknya, bahkan bisa lebih banyak dari apa yang sudah kita berikan. “

Salam hangat,

Denni Pascasakti.

No comments: