Thursday, September 10, 2009

Perjalanan 4 Tahun Merantau di Jogja



Awal mulanya
Pada bulan Juli 2005,Saya adalah seorang yang baru saja diterima di Universitas yang katanya ternama bernama UGM. Dan saya mendapatkan sebuah tempat tinggal di rumah nenek saya daerah Karangasem.Tempatnya sangat strategis, nyaman, dan dekat dengan pusat keramaian. Pada mulanya saya sangat senang tinggal disini. Tempat nenek saya merupakan sebuah rumah induk dengan dikelilingi 14 kamar kos dan 2 pohon alpukat serta tanaman tanaman yang membuat suasana semakin sejuk.Tetapi di rumah induk tidak ada yang menempati sejak nenek saya meninggal 1 bulan sebelum kedatangan saya ke rumah itu. Sehingga kost2an ini dikelola oleh bude saya yang merupakan anak pertama, dan rumah ini selalu dibersihkan oleh penjaga kost. Jadi saya dapat bersantai santai tinggal di rumah ini.

Masa2 Kacau balau
Selang waktu 3 bulan, pengelolaan diserahkan kepada pakde saya yang merupakan anak ke 2 dari keluarga besar. Di awal awal pengelolaan pakde saya, rumah induk selalu penuh dengan asap rokok dan abu rokok. Banyak teman teman dari pakde saya menginap dan membuat suasana di rumah ini menjadi tidak tenang. Sampai di suatu hari ada sekelompok preman mendatangi rumah ini, berteriak teriak, memukul mukul meja, dan akhirnya televisi kami dibawa pergi. Sejak saat itu, tiap malam saya sudah tidak bisa menonton TV lagi. Tapi itu belum seberapa hingga di suatu hari ketika saya sedang kuliah, ada teman kos saya menyuruh datang ke rumah segera, dan pada saat saya datang, saya melihat Petugas PLN yang sedang mencabut kotak PLN, dan berkata, “Rumah ini saya putus listriknya, karena sudah 8 bulan belum bayar rekening listrik. Total 3,5 juta rupiah. Segera Bayar!”. Sejak diambilnya kotak PLN itu, saya dan anak2 kos hidup di rumah tanpa listrik dan penerangan sama sekali. Dan pakde saya menghilang entah kemana.

Masa2 Kosong
3 minggu kemudian, setelah kami hidup mengandalkan obor untuk penerangan dan menimba air sumur untuk mandi. Akhirnya orang tua saya bersedia melunasi tagihan PLN tersebut karena tidak tega melihat keadaan saya, dan orang tua saya juga yang membayar kerugian anak2 kos. Kemudian anak kos semua pergi meninggalkan rumah ini. Untungnya ada salah seorang teman SMA saya yang masih bersedia tinggal. Sejak listrik menyala sampai dengan 2 bulan berikutnya, kos tidak ada yang mengisi,kemudian suatu hari saya mengajukan ide untuk membuka kos ini kembali. Setelah dibukanya kost ini, saya yang ditunjuk untuk menjadi pengelola uang sekaligus bapak kost disini. Hal itu karena tidak ada seorangpun dari keluarga besar yang mau mengurus kos ini, takut kalau suatu hari harus berurusan dengan preman preman yang tidak dikenal itu dan memeras lagi.

Hilangnya Nama Baik
Pada masa2x awal menjadi pengelola kost, saya sangat hati hati sekali dalam mengumpulkan uang yang langsung saya setorkan ke ATM dan segera saya lakukan pembukuan. Tetapi karena TANPA adanya pengawasan sama sekali dari pihak keluarga dan pengecekan yang rutin, lama lama saya mulai berubah.Bayangkan saja, biasanya dalam 3 bulan saya menerima uang dari anak kos sekitar 5 juta rupiah, dimana saya sendiri yang mencatat manual,dan menyetorkan ke bank,saya pun tidak dibayar dalam melakukan ini semua ,maka pikiran pikiran “jahat” mulai timbul. Dan sejak saat itulah saya melakukan perbuatan yang akan menghancurkan nama baik saya sendiri dengan mengambil uang kos sedikit demi sedikit dan saya menjadi orang yang sangat boros, sampai pernah saya membelikan pacar saya boneka seharga 350 ribu. Hingga tibalah di suatu masa dimana uang tabungan saya tinggal 50rb di ATM dan kira kira saya sudah mengambil sekitar 3 juta dari uang kos. Dan parahnya di masa itulah keluarga besar mulai mengendus “kecurangan saya”.

Meninggalkan Rumah Tercinta
Akhirnya semua kecurangan saya terbongkar sudah, dan setiap ada rapat keluarga, saya selalu diwawancarai untuk mempertanggung jawabkan ini semua di mata keluarga besar. Dan yang mungkin masih sedikit tidak saya terima, karena saya dituduh mencuri uang kos sampai dengan 7 juta rupiah. Sayapun tidak bisa menghitung berapa banyak keluarga saya yang sudah mencela di depan saya.Padahal uang orang tua saya dalam melunasi PLN sebesar 3,5 juta saja belum dilunasi pihak keluarga besar, seharusnya tidak pantas mereka mencela saya sampai seperti itu.Sebenarnya semua ini bukan hanya masalah uang saja, tetapi saya difitnah tentang hal hal buruk termasuk mencampuri urusan pada hubungan dengan pacar saya.Terakhir ,saya mendapatkan surat dari pihak keluarga besar untuk pindah dari kamar saya yang semula berukuran 6m x 4m ke kamar berukuran 2m x 2m dan hanya diberi toleransi waktu 3 hari untuk pindah. Sampai suatu hari, kesabaran saya sudah habis dan tepat pada pukul 14.00,saya menyewa mobil pick up terbuka untuk membawa barang2 saya seadanya, dan saya pergi meninggalkan rumah ini demi mencari tempat tinggal baru.

Tempat tinggal sementara
Ketika itu saya belum mendapatkan kost, dan karena saya belum ada tempat untuk tinggal, maka saya menetap sementara di rumah teman saya di pinggir rel kereta api daerah baciro. Disini saya bisa sedikit berhemat karena keluarga teman saya sangat baik dengan terkadang memberikan masakan untuk makan kepada saya,mereka mengerti bahwa saya sedang kekurangan uang. Keadaan uang di ATM masih tetap 50 rb dan tidak bisa dilakukan penarikan uang. Oleh karena itu saya mencari utang sana sini. Untuk melunasi utang2x tersebut, saya harus bekerja keras. Tiap sehabis kuliah di UGM dan SADHAR sekitar pukul 18.00, kemudian saya bekerja menginput data di salah satu perusahaan sampai tengah malam, tidak jarang juga saya sakit karena kelelahan. Ini semua untuk melunasi utang utang saya yang sudah sangat menumpuk.

Kehidupan menjadi anak kos
Setelah bekerja keras menginput data, dan mengajar di kampus selama kurang lebih 3 bulan, akhirnya saya bisa melunasi utang-utang saya. Dan kabar baiknya saya sudah mendapatkan kost yang nyaman di daerah Pogung baru,walaupun di kost ini sampai sekarang hanya ada kasur dan bantal tanpa seprei dan lemari saja. Setelah itu saya diterima bekerja di dagadu yang membuat saya bisa menabung cukup untuk mengisi ATM yang dulu sempat kosong.Di kost yang baru ini, saya bisa merasakan hidup menjadi anak kos yang sesungguhnya. Dulu ketika saya masih di rumah itu, baju2 saya selalu dicucikan, makanan dimasakin, dan ketika sakit saya selalu dijaga. Sekarang sudah tidak ada lagi semuannya itu. Memang terkadang ada rasa ingin kembali ke rumah itu untuk menetap, tetapi karena rasa sakit yang mendalam dan kelulusan saya yang tinggal beberapa bulan lagi. Saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di Jogja dengan tinggal di kost ini.
Terkadang saya merasa menyesal akan hidup yang pernah saya jalani, akan tetapi saya teringat sebuah pepatah bahwa “Jika aq meminta agar hidupku sempurna, mungkin itu termasuk godaan yang menggiurkan.Tetapi pada kenyataannya semua orang pasti pernah merasa tersandung, karena dengan begitu seseorang dapat menarik pelajaran dari kehidupan.”
Salam Hangat
Denni Pascasakti

No comments: