Thursday, May 09, 2013

30 Hari Pelayaran di India (Bagian II)


Suara deru mesin kapal mulai terdengar, tali temali yang mengikat antara kapal dan pelabuhan mulai dilepas satu per satu, bunyi gema dari suara kapal membuat banyak orang yang berdiri di pinggir pelabuhan mulai melambaikan tangan melepas keberangkatan kapal kami menuju lautan India.

Kami tidak bisa lagi mundur, petualangan mengarungi lautan dalam mencari emas hitam harus segera dimulai dan juga kami harus siap menanggung resiko apapun yang akan terjadi selama lima minggu kedepan.

(****)
saya mulai berjalan memasuki ruang kerja yang berada di lantai dua , dan anehnya setiap kali berjalan menuju ruangan ini, saya selalu teringat ketika pertama kalinya sekitar 2 tahun yang lalu dengan wajah cemas dan tangan gemetar dalam mengoperasikan alat-alat navigasi karena pada waktu itu saya tidak mengetahui banyak hal mengenai ilmu kelautan , namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai sedikit banyak belajar mengenai Navigasi kelautan yang ternyata sangat berkaitan dengan bidang yang pernah saya pelajari selama duduk di bangku kuliah Geodesi.

Semua kapal pencari minyak di India hanya diperbolehkan memasuki laut India Pada Bulan Oktober s/d April, karena setelah memasuki Bulan Mei, ombak semakin lama semakinganas dan berbahaya sampai bulan September. Pelaut disini biasa menyebutnya musim Moonson, sehingga sejak dari awal kita selalu diingatkan agar mampu menyelesaikan proyek ini sebelum memasuki musim moonson di awal bulan Mei.

(****)

 Saya memiliki atasan orang Inggris, badannya tinggi besar dengan rambut yang cukup unik yaitu botak di bagian depan namun gondrong di bagian belakang, memang gaul juga atasan saya dalam memodifikasi model rambutnya. Namun dari sisi pengetahuan dan pengalamannya tidak main main, karena dia ternyata sudah memulai proyek seismik sejak tahun 1987 atau sekitar 25 tahun yang lalu ( oh my God, ketika saya baru dilahirkan ke dunia, orang Inggris ini ternyata sudah memulai proyek seismik pertamanya..)

Untuk mempermudah dalam pekerjaan, saya dan orang Inggris ini yang sebut saja namanya Richard mulai membagi pekerjaan. Tepatnya karena di ruang navigasi terdapat sekitar 19 Layar monitor, maka kami harus membagi rata siapa yang menjaga 10 monitor dan siapa yang menjaga 9 monitor.
Saya mencoba menyampaikan ide, “Hei Richard, kamu kan sudah 25 tahun bekerja di seismik, jadi kamu yang jaga 10 monitor ya? Karena saya baru 4 tahun di Seismik, jadi saya yang jaga 9 monitor lainnya.” Awalnya Richard kurang setuju, namun karena menyadari bahwa dia lebih senior daripada saya, pada akhirnya setuju juga.

Richard banyak mengambil peran dalam hal Navigasi Real time, operasi Akustik, monitoring RGPS, monitoring posisi kedalaman kabel, dan komunikasi dengan kelima kapal lainnya. ( walaupun sebenarnya ada pekerjaan tambahan seperti membetulkan tulisan saya dalam bahasa inggris yang salah grammarnya.hehe)

Saya banyak berperan dalam mengawasi dan memonitor kedalaman menggunakan Echosounder, monitoring arus kecepatan di dalam laut, Monitoring Ketelitian DGPS Real Time, Instalasi alat alat akustik pada streamer dan source, dan tugas utama saya adalah melakukan post processing navigasi menggunakan perhitungan Statistik serta Iterasi dengan prinsip polygon jarak dan sudut.

Pernah saya menemukan dalam suatu artikel yang mengatakan bahwa pekerjaan akan menjadi sangat menyenangkan ketika sesuai dengan passion, dan saya merasa enjoy bekerja di departemen Navigasi terutama karena pekerjaan ini sesuai dengan background pendidikan saya. 

Ayah sayapun berasal dari Jurusan yang sama. Semenjak masih duduk di bangku SD, saya sudah sering diajak ke lapangan dan dikenalkan sedikit demi sedikit mengenai ilmu pemetaan, saya mempelajari bagaimana kondisi lapangan yang diukur hanya dari Jarak dan sudut teryata bisa dituangkan menjadi sebuah gambar peta di dalam Kertas ukuran besar (A0).

Ya, pekerjaan ini sangat sesuai dengan passion saya , salah satu hal yang juga membuat saya nyaman adalah system rotasi yang seimbang yaitu 5 minggu dioffshore dan 5 minggu dirumah, sehingga saya berkesempatan untuk menyalurkan hobi menulis dan backpacker pada saat saya libur. 

(****)

“Krinnnnnnnnnnnnnngggg!!!!!!!”
“Bajak laut….. bajak laut……Bajak Laut…!!!!”

Alarm berbunyi keras sekali dan terjadi berulang ulang
Hanya satu hal yang saya ingat bahwa setiap kali ada bunyi alarm bajak laut, maka semua kru kapal harus berjalan menuju ruang makan yang ada di lantai 1.

Walaupun semua kru tampak khawatir, kami tetap berjalan beriringan menyusuri lorong lorong kamar dan masuk ke ruangan makan.

 “Kurang satu orang lagi.” Teriak kepala project.
Kami mulai cemas, jangan jangan ada satu teman kami yg sudah ditawan diatas sana

“Semoga dia datang,” bisik teman disebelah saya .
Pintu mulai sedikit terbuka, dan teman yang kami tunggu tunggupun datang.

“Oke Semua Lengkap!” Kepala project kemudian menelfon kapten dan melaporkan bahwa semua kru sudah lengkap.
Tidak berselang lama, datang satu regu keamanan yang berbadan tinggi besar mulai membagikan penutup telinga kepada kami.

“Buat apa penutup telinga ini?”
Pertanyaan saya tidak dijawab, 

Teman teman dikiri dan kanan saya mulai memakai penutup telinga itu, sehingga saya melakukan hal yang sama.
Kami diarahkan untuk mengikuti regu keamanan yang ada di barisan depan untuk menyusuri lorong dan  menuruni tangga ke ruangan yang ada di bagian mesin paling bawah kapal.

Ruangan tersebut sangat berisik oleh suara mesin, oleh sebab itu sayapun baru mengetahui mengapa sejak di ruangan makan tadi kami dibagikan penutup telinga yang sebenarnya sangat berguna supaya melindungi pendengaran dari suara bising.

DI ruang mesin , minuman botol mulai dibagikan untuk mencegah dehidrasi. Kondisi ruangan ini cukup panas, mungkin baru sekitar 10 menit diruangan tersebut, keringan saya sudah mulai bercucuran dan baju mulai basah, namun semua ini kami lakukan demi keselamatan kami semua.

“Ok Guys !, SImulasi sudah selesai dan hasilnya sangat baik. Sekarang  semua dapat kembali ke ruangan”

Ternyata alarm tadi hanyalah simulasi yang harus kami lakukan setiap minggu, Menurut saya hal ini memang perlu dilakukan, sehingga ketika menghadapi situasi yang sebenarnya, kami sudah terbiasa untuk melakukannya sesuai prosedur.

 Suasana Ruang Makan
Sejak kecil, saya terbiasa untuk sarapan pagi sebelum memulai aktivitas, begitu pula dengan kebiasaan yang saya lakukan di kapal, biasanya saya menyempatkan datang ke ruang makan untuk mengambil nasi secukupnya, lauk , dan segelas susu.

Namun ada hal yang unik di ruang makan ini. Jadi begini ceritanya, di ruang makan tersebut  terdapat dua meja makan besar. Meja makan pertama terletak di dekat pintu masuk, dan meja makan kedua terletak lebih jauh dari pintu masuk.

Siapa saja sebenarnya boleh duduk dimeja makan manapun, tidak ada aturan yang mengatur mengenai hanya orang tertentu yang boleh duduk di meja makan pertama ataupun meja makan kedua. Namun kenyataan yang terjadi, biasanya meja makan pertama tetap saja selalu diduduki oleh orang orang berkulit putih seperti Amerika, Perancis, Inggris, Sedangkan meja makan kedua biasanya diduduki oleh orang orang Asia seperti Indonesia, Malaysia, FIliphina.

Nah yang jadi persoalan, setiap pagi itu biasanya teman teman Asia tidak ada yang sarapan.
Jadi saya duduk sendirian di meja makan kedua ?. Sepertinya bukan ide yang bagus, Jadi mau tidak mau saya harus duduk bersama orang orang kulit putih. Menurut saya mereka tidak memandang warna kulit, karena saya yang awalnya sedikit canggung duduk bersama mereka, setelah hari demi hari, saya selalu disapa dan diajak berbicara bersama atau bercanda seputar perkembangan berita terakhir yang kami pantau dari internet.

Teman sarapan setiap pagi selalu teman teman dari Australia, Inggris, Afrika Selatan dan Skotlandia. Ada satu hal yang membuat saya kagum, walaupun mereka berbeda benua dan terpisah ribuan kilometer satu sama lain, namun mereka berbicara dalam satu bahasa yang juga merupakan bahasa sejak mereka lahir. Kekerabatan orang orang bule sangat erat, jadi hal itulah yang membuat saya belajar bahwa ternyata rasa Solidaritas akan semakin erat ketika lebih banyak persamaan yang dalam hal ini salah satunya adalah persamaan bahasa.

Tugas utama Navigator

Ternyata Menjalankan kapal besar dengan panjang sekitar 80 meter ini tidak sesulit yang dibayangkan , Prinsip kerjanya sama seperti ketika kita bermain dalam video games.

Mengapa? karena semua sistem sudah serba digital sehingga kendali kapal dapat digerakkan hanya dari satu buah mouse dimeja navigasi saya. Hebat ya teknologi saat ini yang sudah sebegitu canggihnya.

Tugas yang perlu dilakukan Navigator adalah membuat jalur kapal dan mengeset konfigurasi pemetaan seperti datum, ellipsoid, proyeksi peta dan geoid, dan memastikan bahwa semua konfigurasi sudah benar

Setelah sistem siap dijalankan, saya tinggal mengeklik satu tombol di software dan “bammm..!”, Kapal akan mengikuti jalur yang sama persis seperti yang sudah saya set sebelumnya di layar navigasi.

Memang benar bahwa semakin canggih suatu teknologi, maka harus semakin sederhana system yang digunakan serta user friendly, tidak ada istilah lagi seseorang mengatakan,”Enak ya jaman sekarang, semuanya sudah serba mudah, tinggal clik sana klik sini selesai. Jaman saya dulu harus buka daftar trigonometri dulu baru bisa ketemu jawabannya.”

Suatu hari Steve Jobs pernah mengatakan, “Saya ingin membuat handphone yang hanya memiliki satu tombol operasi saja.” Namun pada saat itu, Steve Sobs justru ditertawakan oleh semua engineernya dan dibilang bahwa impiannya tersebut hanya impian belaka.

Namun siapa yang sangka berkat ketekunan Steve Jobs, maka handphone yang hanya memiliki satu tombol tersebut menjadi salah satu handphone paling laris di seluruh dunia (I-phone).

(****)
Hari hari penuh pembelajaran yang menyenangkan dan terkadang membosankan selama 5 minggu ini sudah saya lewati.Pelabuhan India sudah terlihat di ujung cakrawala, dan kali ini sudah tidak ada orang yang melambaikan tangan seperti ketika saya meninggalkan pelabuhan ini.

Memang benar bahwa terasa nikmat ketika kaki ini sudah menginjak daratan setelah beberapa minggu terapung apung di laut. :)
Sampai bertemu di Indonesia.

Jales Veva Jaya Mahe

(To be Continue)

Best Regards,
Denni Pascasakti.
5 May 2013
Pelabuhan Mumbai-India

1 comment:

Ir Iswinardi said...

Selamat bekerja, semoga sukses n lancar n selamat kembali ke rumah, salam n tetap semangat. (Iswinardi - Spirit 74, Geodesi UGM).