Wednesday, August 17, 2011

Have You Seen Europe ? First , Get “Schengen Visa”

Kepala serasa berputar putar, mata berkunang kunang, dan isi di dalam perut seperti ingin dimuntahkan keluar. Lalu saya mencoba turun dari tempat tidur dan melihat sekeliling, “oh tidak.” Segala sesuatunya bergerak seperti gempa bumi dasyat yang tidak pernah berhenti selama 24 jam dalam sehari.

Seharusnya saat itu saya masih berada di dalam kapal besar dimana ombak sebesar apapun tidak akan terasa goyangannya. Namun apa daya, ternyata kapal besar akan memasuki wilayah perairan Malaysia sehingga setiap personilnya diwajibkan membawa pasport sebagai bukti mereka bukan imigran gelap.

Yang jadi pertanyaan ,”Mengapa saya tidak membawa pasport ?” nah itu dia, tepat 1 bulan sebelumnya saya menitipkan pasport saya di agent, dikarenakan pasport saya akan dipakai mengapply Visa Schengen untuk training Software di Perancis, saya berasumsi bahwa project saat ini berada di madura lalu project berikutnya di Karimun Jawa sehingga masih aman jika tidak membawa pasport. Namun ternyata, asumsi saya salah.

Ketika di kapal besar, Kepala Project mendatangi saya dan bertanya,”Denni, Do you bring your passport, ?, because next project in Malaysia, so Kru Change will be there”, dan saya jawab, “My Passport still in France Embassy sir” Lalu dia berkata ,”OK, Now , You go to Small Ship that will go to Surabaya Port. The time From here until Surabaya need 36 Hours.” Dan saya berkata dalam hati ,”What!.. 36 Jam di kapal Kecil.. Oh My God. ” *padahal saat itu, berdasarkan laporan cuaca, ombak setinggi 2-3 meter dan kecepatan angin cukup tinggi*

(****)

Setelah saya turun dari tempat tidur, langkah demi langkah saya lakukan walaupun badan saya terhempas kekiri dan kekanan dikarenakan besarnya ombak dan kecilnya kapal. Tujuan saya adalah ruang makan, saya ingin mengisi perut supaya hilang rasa mual ingin muntah. Begitu sampai di ruang makan, disana ada dua orang Client dari Oil Company. Mereka orang yang sangat ramah. Orang pertama bernama Robert ( bukan nama sebenarnya) , dia berkebangsaan Australia dengan badan seperti gentong alias guedee banget. Orang kedua bernama Bill, dia berkebangsaan Perancis. Hebatnya , beliau sudah berumur 69 tahun namun memiliki semangat seperti seorang berumur 20an tahun.

Saya kemudian mengambil remote TV, mencoba memindah mindah saluran, ternyata semua salurannya TVRI, sehingga saya bertanya kepada kru kapal yang kebetulan orang Indonesia ,”Pak, kok saluran nya TVRI semua?” kemudian beliau menjawab,”Iya mas, soalnya belum bayar tagihan.”

Saat itu , saya beserta 2 orang Client melihat berita mengenai beberapa orang yang berbondong bondong mencoba terapi baru yaitu berbaring diatas rel kereta api sambil kesetrum merasakan kejutan listrik. Lalu Robert bertanya,”What are they doing? Are they wanna die ?” saya mencoba menjelaskan bahwa mereka mempercayai ritual tiduran diatas rel dapat membuat badan sehat. Lalu Robert dan Bill tertawa terbahak bahak dan berkata,”This is the Craziest News ,I have ever seen.They are Irrational.”

Hal yang terkadang membuat saya bingung,pada saat itu, reporter TVRI mewawancarai kepada seorang ibu yang sedang berbaring diatas rel,”Kok mau ikut-ikutan tidur diatas rel bu?” dan ibu itu menjawab,”Iya lah pak, habis kita kita ini kan mau sehat, tapi sekarang harga obat sudah mahal, apa apa pakai uang. Kita gag mampu pak, mending tiduran di rel,,Selain Gratis, seger pula.”

Buat saya ini bener-bener aneh, Memangnya untuk sehat, harus selalu mengeluarkan uang?! Coba saja berjogging atau bersepeda setiap pagi . Bukankan olahraga tersebut gratis dan bisa menyehatkan badan.

Mungkin jawabannya dikarenakan banyak orang ingin “jalan pintas” tanpa usaha. Sebagai contoh, ingin sehat tanpa berolahraga, berarti harus tidur diatas rel kreta. Mau kaya tanpa kerja keras, berarti ikut pesugihan atau korupsi. Jelas saja kedua Client Oil Company tertawa terbahak bahak dan saya hanya terdiam tanpa berkata sesuatu apapun saat itu.

(1 Bulan Sebelumnya)

Sudah sejak lama saya bermimpi ingin pergi ke Perancis, sepanjang yang saya ketahui, belum pernah ada di departemen saya yaitu navigasi yang pergi ke Perancis. Namun saya tetap percaya bahwa ,”Apa yang kita yakini dan percayai saat ini secara terus menerus, akan menjadi kenyataan di masa depan.”

Tiba tiba, ada berita bahwa semua Navigator di kapal Finder akan ditrainingkan di Perancis. Saat itu, di Shift saya bekerja ada 4 orang Navigator. Satu orang berkebangsaan Australia sudah memiliki visa dan satu lagi penduduk asli Perancis, 2 orang lain nya yaitu saya dan pak Hasan( Bukan nama sebenarnya ) belum memiliki Visa.

Tantangan nya adalah ketika saya buka di website, disana tertulis bahwa untuk mengajukan Visa Schengen, minimal membutuhkan waktu 2 bulan. Padahal waktu saya hanya 1,5 bulan sebelum jadwal training . Namun saya harus tetap selalu optimis,, Bisa !

Berikut ini Syarat – Syarat pengajuan Visa Schengen untuk urusan Training / Bisnis :
( dari website resmi Kedubes France )
1. Mengisi Formulir Aplikasi Schengen
2. Dua lembar foto yang sama dan baru ( 3,5 x 4,5 cm latar belakang putih )
3. Tiket Pulang-Pergi dari Indonesia
4. Asuransi ( Yang sudah diakui oleh Kedubes France )
5. Fotokopi Pemesanan Hotel
6. Bukti akomodasi
7. Letter of Guarantee ( dari perusahaan tempat kita bekerja )
8. Letter of Invitation ( dari perusahaan yang mengundang training )
9. Sertifikasi kerja
10. Kartu keluarga dan KTP
11. Pasport


Lalu langkah Pengajuan Visa Schengen :

1. Bukalah Website TLScontact ( agen resmi France Embassy ) , isi formulir schengen.
2. Buat akun di TLScontact
3. Isilah beberapa informasi diri sebagai pelamar aplikasi visa
4. Daftar online untuk janji bertemu.
5. Persiapkan dokumen aplikasi visa dan masukkan aplikasi sesuai janji bertemu di TLScontact.
6. Aplikasi akan diproses di Kedubes Perancis.
7. Pengambilan pasport di TLScontact.

Setelah menunggu proses visa schengen yang memakan waktu 3 minggu dan harus rela berkorban naik kapal kecil ditengah hantaman gelombang besar selama 36 jam. Akhirnya Visa Schengen tersebut, berhasil saya dapatkan.

Namun ada sedikit masalah, awalnya Tiket pesawat saya dari Jakarta dipesankan tanggal 20 Agustus bareng Pak Hasan yang juga akan ditrainingkan di Perancis, Namun dikarenakan agent yang menggaply visa saya,beliau salah menuliskan tanggal yang seharusnya tgl 20 – 28 Agustus, ditulisnya tanggal 21-28 Agustus. Jadilah Tiket keberangkatan saya dirubah menjadi tanggal 21 Agustus,dan saya harus berangkat sendirian dari Jakarta menuju Perancis.

Ket : Biaya Visa Schengen; Jika apply sendiri = 1.500.000 ; Jika memakai agen = 3.500.000

Berikut ini Jadwalnya trip saya :
1. PASCASAKTI/DENNI MR
SQ 963 21AUG CGK(Soekarno Hatta Intl) - SIN(Changi) 1905 2140
AF 257 21AUG SIN(Changi) - CDG(Charles De Gaulle) 2305 0610+1
AF 7720 22AUG CDG(Charles De Gaulle) - NTE(Atlantique) 0935 1040


Ada yang tau dimana itu “Charles De Gaulle”? atau dimana itu “Atlantique” ? Sepertinya ini salah satu tantangan yang diberikan kepada saya untuk tetap optimis dan berfikir positif bahwa segalanya itu mungkin, walaupun saya sendirian berangkat dari Jakarta menuju kota yang bernama Atlantique ( Apakah ini kota Atlantis di bawah laut yang ada dalam legenda ?? )

Doakan saya tidak tersesat, dan segalanya lancar sampai di Tujuan.



NB :
Selamat memperingati HARI KEMERDEKAAN INDONESIA yang ke 66 tahun, Garuda di Dadaku.Jayalah terus Indonesia-Ku 

Best Regards,
Denni Pascasakti
Jakarta, 16 Agustus 2011 ; pk 23:07
www.dennipasca.blogspot.com

2 comments:

Anonymous said...

salut buat mas denny...

nani freawika said...

wah keren mz deni jd pengen,..