Wednesday, June 02, 2010

Sekilas Kenangan proyek Pertamina-Medco




Proyek ini berjalan karena semakin sedikitnya cadangan minyak dan gas bumi yang ada di Indonesia.Berdasarkan perhitungan, Indonesia hanya memiliki cadangan minyak untuk sekitar 10 tahun ke depan, sehingga apabila tidak ditemukan cadangan minyak baru, maka pada tahun tahun 2020 Indonesia akan mengalami krisis minyak.

Selain itupun kondisi Indonesia diperparah dengan tidak adanya pembatasan terhadap jumlah mobil dan motor, sehingga konsumsi bahan bakar nasional menjadi 1.600.000 barel, padahal Indonesia hanya mampu memproduksi 1.000.000 barel. Mungkin anda bertanya,”Lalu dari manakah Indonesia mencukupi kekurangan 600.000 barel?”. Ya, Indonesia sampai saat ini masih mengimport 600.000 barel dari luar negri, dan menjadi beban devisa negara kita dari tahun ke tahun.

Padahal Indonesia adalah Negara yang sangat kaya dengan cadangan minyak, namun apa daya, jika anda sempat bermain ke Balikpapan atau Riau. Hampir semua sungai dan ladang-ladang minyak dikuasai oleh asing, dan Negara ini hampir sama nasibnya seperti Indonesia sebelum tahun 1945, masih terbelenggu dalam penjajahan dalam artian yang lebih halus.

Oleh sebab itu pemerintah Indonesia tahun ini sedang gencar gencarnya mencari cadangan minyak baru melalui survey Seismik. Survei ini bisa dilakukan di darat maupun laut, dan pemerintah melalui PT Pertamina menjalin kerjasama dengan PT Medco EP untuk membeli sebuah Lahan Minyak di daerah Pandauke, Sulteng. Ketika Proyek ini ditenderkan, yang menang proyek adalah PT ELnusa Tbk. Namun sayang sekali, karena Elnusa sampai saat ini masih belum memiliki kapal, sehingga PT Elnusa masih menyewa kapal dan tenaga kerja dari Noordic Company yang notabene merupakan perusahaan minyak dari Norwegia.

Karena kapal, dan tenaga kerja semuanya dari Noordic Company, maka sebagai pemenang proyek yaitu PT Elnusa wajib mengirimkan Supervisor untuk mengawasi jalan nya proyek agar sesuai dengan prosedur. Akan tetapi, ternyata semua temen temen di kantor sedang sibuk proyek di Pertamina ONWJ ( Offshore North West Java ), akhirnya saya lah yang menjadi tumbal nya. Ketika itu bos saya hanya menitipkan pesan,”Ini dokumen tendernya, kamu baca sendiri ya. Intinya itu Confidence.!! Tunjukkin kalo kamu seperti sudah bekerja disini selama 2 tahun.” Saya mengganguk padahal keringet dingin keluar bercucuran karena bingung. Tidaakk…
(******)

Sosialisasi di masyarakat
Pada saat sosialisasi di masyarakat, hampir semua tokoh-tokoh penting hadir semua disana mulai dari perwakilan Pertamina, Medco, BP MIgas, Camat, TNI, Kapolres, Dinas kelautan yang rata2 sudah berumur 50 tahunan lebih. Dan saya, tampak seperti anak hilang menyempil di tengah2 mereka.:)
Proses sosialisasi berjalan dengan cukup keras, karena masyarakat nelayan yang desanya dilalui kapal seismic, tidak dapat mencari ikan sehingga menuntut ganti rugi. Mereka berteriak-teriak,” Tidak ada ikan..Tidak ada uang!!” Hal ini terjadi berkali kali, sampai salah seorang tokoh masyarakat berdiri dan berkata,” Kalau kami tidak diganti rugi, Jalan masuk kapal akan kami Blokir!!” yang diteriaki oleh semua warga,”Betul..”

Jelas gag mungkin kalau proyek ini ditunda.Bayangkan saja, Untuk sewa kapal dan peralatan saja dari Noordic company satu harinya sudah 1 Milyar rupiah.Karena itu mau gag mau Pertamina harus memberikan ganti rugi kepada masyarakat yang rata2 satu desa diberikan ganti rugi 10 juta rupiah. Dan setelah dibayarkan, terpancar senyum tanda puas dari warga masyarakat.

Miniatur Dunia
Kenapa saya menyebutnya miniatur dunia?, karena setelah saya sampai di kapal induk bernama Noordic Energy dengan panjang kapal mencapai 70 meter. Hampir semua orang dari setiap Negara di dunia campur aduk disana mulai dari Rusia, Amerika, British,Jerman Filipina, Malaysia, Indonesia, dll. Senang sekali memiliki banyak teman dari berbagai belahan dunia, kami bisa bercerita banyak seputar Negara masing2. Dan saya baru mengetahui bahwa ternyata banyak sekali kesamaan kata2 antara bahasa Indonesia dengan bahasa Tagalog ( Filiphina) diantaranya “anak”, “Wajah”,dll.

Bagian yang harus saya awasi adalah Navigator, disana ada 2 orang dari Noordic yaitu Alexis seorang berkebangsaan Rusia yang sudah meninggalkan keluarganya Selama 2 bulan untuk berlayar mengelilingi dunia. Dan ada juga Azizi, seorang berkebangsaan Malaysia dengan gaji 120 juta tiap bulan nya dan hidup serba glamour mulai dari Koleksi baju Polo Ralph Lawrence sampai dengan Koleksi mobil2 BMW.Namun mereka semua adalah rekan kerja yang baik dan ketika saya bertanya, mereka tidak segan2 untuk menjelaskanny.

Kawanan Paus
Setelah beberapa hari tinggal di kapal tersebut, saya sedang duduk2 di kamar dan memandang keluar jendela. Tiba2 pintu kamar saya diketuk. Tok..Tok..Tok.. Ternyata kepala proyek bernama Mr. Keith datang ke kamar saya dan berkata,” Have you see a whale(paus) in your life?”.. and I answer,”No, sir.” Kemudian Mr Keith bilang,” Let’s go to the Bridge(Bagian paling atas kapal)”
Ketika berada di bagian paling atas,saya disodorkan olek pak keith sebuah teropong , dan benar. Mata saya terbelalak melihat sekawanan paus yang jumlahnya tiga ekor keluar dari permukaan laut dengan indahnya.”wowww…. It’s Amazing” Baru kali ini aq lihat secara langsung paus di laut lepas. Ternyata di Sulawesi ada Pausnya juga…

Kapal seismic harus dihentikan beberapa saat ketika ada paus yang keluar dari permukaan, karena bayangkan saja, Tekanan air gun untuk proyek seismic ini sebesar 2000 Psi, jika ingin tau kekuatan dari air gun sebesar apa?,, Tekanan ban motor kita saja cuman 20 PSi. Sehingga tekanan air gun setiap kali ditembakkan ke dalam laut sebesar 100 kali lipat dari tekanan ban motor. Jika ada ikan ikan kecil yang melintas dibawah kapal, mungkin ikan tersebut akan pingsan terkena tembakan air gun.

Kapal menabrak karang
Saat itu ,kami sedang makan siang sekiatar pukul 1 siang. Pada saat sedang asik2nya berbincang, tiba2 terjadi goncangan keras. Dhuer…!!! Dan saya berlari ke bagian atas kapal, ternyata kapal ini menabrak sebuah karang besar. Ouch.. Mudah2 han kapai ini gag bocor. Lalu tiba2 saja ada panggilan kepada nama saya,”To Mr Denni, go to the Master Room.”

Pada saat berjalan ke master room, saya keringet dingin, karena yang menentukan jalur kapal dan peta batimetri adalah saya. Dalam hati berkata,” Jangan2 saya salah mencantumkan angka koordinat?”. Kapten kapal marah besar, dia berkata,” How about your coordinat and batimetric data, we are not trust you again!” Lalu dengan kepala dingin saya coba bertanya,”What is our position now?! I want to cek our way” Setelah diberikan Koordinat, ternyata ini murni kesalahan mereka yang terlalu cepat melakukan maneuver kapal sehingga menabrak karang.

Proses penarikan kapal Noordic awalnya menggunakan 1 kapal, namun usaha tersebut sia-sia. Dan sore harinya datang kapal penarik yang lebih besar bernama Tug boat yang biasa menarik batu bara maupun Rig Platform. Baru pukul 19.00 WIT kapal berhasil lolos dari karang, kami semua berteriak senang namun berarti rencana hari ini gagal merecord 1 Line, dan harus kembali merancang Plan untuk esok hari.

Ada pertemuan pasti ada perpisahan
Tidak terasa sudah 2 minggu saya berlayar diatas kapal Noordic Energy, Banyak hal yang bisa saya dapatkan disini mulai dari Ilmu, pengalaman, teman2 baru dari berbagai belahan dunia, dan terutama kemampuan untuk menahan emosi serta kemampuan berlatih bahasa inggris.
Siang itu, setelah semua proyek selesai, Kami bersalaman satu sama lain dan Seorang Rusia mengantarkan kami pulang ke Kendari menggunakan Speed boat. Proyek telah berakhir, Namun Kenangan dan persahabatan tidak akan pernah berakhir. Semoga kami bisa berjumpa kembali di suatu hari nanti. Good Bye my Friend.. dan kami masih selalu ingat motto kami yaitu,” WE WILL DO OUR BEST!!”

Salam Hangat
Denni Pascasakti

No comments: