Sunday, July 19, 2009

BeasisWa : Kebutuhan atau Sebuah Kecerdikan ???

Kejadian tadi malam sungguh aneh, ketika saya berangkat kerja ke salah satu gerai Dagadu yang ada di jalan pakuningratan no 15, saya masih ingat sekali bahwa saya membawa uang 100 ribu di dalam dompet saya. Namun karena selama jaga gerai, Dompet kurang nyaman apabila ditaruh di saku celana, maka saya yang mungkin sedikit ceroboh ini justru menaruh dompet di tempat pernak pernik yang mudah sekali terlihat oleh orang lain. Dan memang kejadian buruklah yang terjadi. Sepulang jaga gerai tepatnnya pukul 18.00, saya yang sedang kelaparan ini berencana akan mencari makan malam, dan setelah sampai di tempat makan, ketika membuka dompet,, saya terkejut sekali setelah melihat uang di dompet saya tinggal 20 ribu.Karena itu saya pergi ke mesin ATM tepatnya di Bank BNI 46 jakal,lalu saya menarik uang 100.000.. awalnnya perasaan saya masih marah karena tidak rela kehilangan uang 80ribu di dompet saya, namun perasaan emosi itu langsung hilang ketika melihat struk ATM yang keluar berjumlah Rp 2.100.000.. wooooww....dan ternyata setelah mengecek kembali memang benar, saldo ATM saya yang tinggal berjumlah 600.000 sekarang nilai nominalnnya sudah berubah menjadi 2.100.000. perasaan saya tadi malam senang sekali, karena kesimpulannya saya mendapatkan beasiswa PPA tahun 2009-2010.

Berbicara soal beasiswa... saya menjadi bertanya tanya di dalam hati,, apakah beasiswa itu bagi mahasiswa merupakan sebuah kebutuhan atau sebuah kecerdikan?? Hal ini sudah bukan lagi menjadi rahasia bahwa jika kita melihat teman teman yang mendapatkan beasiswa justru teman teman yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. Saya pernah penasaran akan hal ini di tahun 2007 silam, dan bertanya kepada salah satu teman saya yang lolos beasiswa BBM dimana salah satu persyaratannya adalah Surat keterangan miskin dari kelurahan setempat, padahal jika saya melihatnya dia pergi kuliah membawa motor, memiliki HP 2 buah dan memiliki laptop... Hahaha.. saya bertannya dalam hati..”Bagaimana mungkin orang yang cukup mapan ini bisa memiliki surat keterangan miskin dari kelurahan???” Selidik punya selidik akhirnnya dia mengaku bahwa ayahnnya berteman dekat dengan pak lurah di kampung halamannya. Berarti secara tidak langsung, ayahnya sudah mengajarkan hal yang kurang baik kepada anaknya, dan ada kemungkinan anaknnya di kemudian hari melakukan hal yang sama juga. Ada lagi contoh lain dimana teman saya selalu mendapatkan beasiswa BOP yang selalu dipergunakannya untuk membeli HP dan memodifikasi motornnya..

Bukannya saya munafik, tapi mungkin saya juga termasuk golongan berekonomi menengah ke atas, dan saya juga mendapatkan beasiswa PPA ini. Karena itu saya sebenarnya bingung antara perasaan bersalah atau tidak,, saya merasa bersalah jika melihat bahwa masih banyak mahasiswa yang sebenarnya kondisi perekonomiannya dibawah saya, tetapi justru ia tidak mengajukan beasiswa ini.. Tetapi saya juga terkadang tidak merasa bersalah jika melihat banyak teman teman saya yang juga mendapatkan beasiswa PPA ini dan memiliki tingkat perekonomian diatas saya.

Menurut saya, Beasiswa saat ini sistem persyaratannya harus bisa lebih diperketat lagi. Karena Sebagai contoh seperti Surat keterangan tidak mampu dari kelurahan saja bisa dipalsukan, Surat penghasilan Orang Tua Ternyata juga masih bisa dipalsukan, sehingga tujuan yang ingin dicapai SI pemberi beasiswa justru dimanfaatkan mahasiswa nya. Karena itu semoga Sistem Beasiswa bisa lebih baik untuk ke depan nya, dan Bisa menjangkau golongan yang sudah sepantas nya mendapatkan beasiswa ini.

2 comments:

pepito said...

buatku ya den, tergantung beasiswa apa dulu. beasiswa yg aku dapet selama kuliah adalah beasiswa dr PEMDA, dan tujuan beasiswa itu adalah murni untuk penunjang proses belajar 'putra-daerah', jadi gak menjurus ke arah ekonomis. dan setiap cair aku selalu mengalokasikan dana untuk bayar SPP, sisanya yah mungkin bisa untuk hal 'hura-hura' lain tapi dalam porsi wajar (nonton, beli baju, buku dll)

yg aku suka gak habis fikir, kadang beasiswa yg seharusnya menjangkau kaum ekonomi menengah ke bawah (katakanlah BOP) justru malah 'BANYAK' salah sasaran. contohnya mungkin yg kayak kamu sebutin tadi, dimanfaatkan untuk prilaku konsumtif.

yg salah? 2 pihak terkait. dalam hal ini universitas yang kurang jeli menyeleksi, dan si penerima beasiswa yang kurang punya HATI.

:)

manda kriting said...

dulu, aku punya pandangan bahwa beasiswa itu semacam 'award' untuk prestasi belajar, terutama bagi mereka yang kekurangan untuk membiayai pendidikannya sendiri. atau simply untuk membantu yg kekurangan.(means yg mampu comes on 3rd priority).

tapi kenyataannya yah seperti yang kita tau bersama lah ya..

it really breaks my heart when i first found out the reality, dan aku bersumpah selama orangtuaku atau aku masih mampu membiayai sekolahku, aku gaakan pernah apply untuk beasiswa apapun.

but i've lost my faith on education anyway.

hehe, sorry kalo my comment sounds too dark or bitter, just wanna share some thougts...